DENPASAR-fajarbali.com | Krisis kelangkaan bahan bakar minyak (BBM)—terutama jenis Pertalite dan Pertamax—yang memicu antrean panjang hingga menyebabkan kemacetan dan meluber ke badan jalan di wilayah Denpasar, Badung, dan Tabanan telah menjadi sorotan utama.
Dari perspektif administrasi publik dan analis kebijakan, fenomena ini bukan sekadar masalah teknis rantai pasok logistik semata, melainkan bentuk kegagalan tata kelola risiko (risk governance) dan komunikasi krisis (crisis communication) yang berdampak langsung pada pelayanan publik dasar serta stabilitas ekonomi regional (pariwisata).
Kajian Singkat: Akar Masalah dari Perspektif Kebijakan Publik
• Rentannya Manajemen Rantai Pasok (Supply Chain Vulnerability): Ketergantungan logistik energi yang bertumpu pada jalur distribusi tertentu (seperti Terminal BBM Manggis) membuat sistem sangat rentan ketika terjadi hambatan moda transportasi laut atau kemacetan lalu lintas darat.
• Asimetri Informasi & Kepanikan Publik (Panic Buying): Ketiadaan transparansi data stok secara real-time di awal gangguan memicu ketidakpastian (policy vacuum). Akibatnya, masyarakat melakukan panic buying dan penimbunan skala kecil (menggunakan jerigen/galon), yang memperparah kekosongan stok di SPBU.
• Efek Domino pada Layanan Publik dan Ekonomi: Kemacetan total dan kelangkaan BBM mengganggu mobilitas tenaga kerja, distribusi logistik pangan, hingga mencoreng citra Bali sebagai destinasi pariwisata internasional.
Rekomendasi Kebijakan untuk Para Pihak










