Selain alur cerita yang sarat makna, Bongsan Talchum juga memikat lewat gerakan tari yang energik, iringan musik tradisional Korea, serta penggunaan topeng dengan karakter yang ekspresif. Perpaduan unsur tersebut menjadikan pertunjukan hidup, komunikatif, dan mudah diterima lintas budaya.
Prof. Dibia menjelaskan, kehadiran rombongan seni dari Seoul Institute of the Arts tidak terlepas dari kerja sama akademik dengan Institut Seni Indonesia (ISI) Bali yang telah terjalin melalui nota kesepahaman kedua institusi.
Sebelumnya, Prof. Dibia juga memenuhi undangan kampus tersebut di Ansan City, Korea Selatan. Sejak Mei 2026, ia memberikan workshop Tari Kecak kepada sekitar 40 mahasiswa sebagai bagian dari persiapan mereka tampil di PKB.
Pelatihan itu menjadi fondasi lahirnya kolaborasi seni Bali-Korea yang akan ditampilkan di hadapan publik internasional dalam ajang PKB XLVIII. Yaitu dijadwalkan pada Rabu 8 Juli 2026, di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Bali.
Melalui pertukaran seni ini, PKB kembali menegaskan perannya sebagai panggung diplomasi budaya dunia, mempertemukan tradisi yang berbeda dalam semangat saling belajar, menghargai, dan mempererat persahabatan antarbangsa. [gde]










