Luka Tak Terlihat: Child Grooming dan Tanggung Jawab Keluarga Lindungi Anak

IMG-20260126-WA0000
(ilustrasi foto: Child Grooming/ist).

DENPASAR-fajarbali.com | Buku Broken Strings yang viral kembali membangkitkan pembicaraan di masyarakat tentang luka masa kecil yang sering disembunyikan di balik hubungan yang tampak biasa.

Kisah yang disampaikan dalam buku ini tidak hanya membangkitkan empati, tetapi juga mengingatkan kita bahwa ancaman terhadap anak tidak selalu terlihat jelas seperti kekerasan fisik. Ancaman terbesar justru datang secara perlahan, diam-diam, dan dengan cara yang manipulatif : child grooming.

Topik ini perlu dibahas lebih luas karena dampaknya tidak hanya merusak masa kecil, tetapi juga dapat memengaruhi kesehatan mental seseorang hingga dewasa. Dalam konteks pembangunan keluarga dan sumber daya manusia, child grooming bukan hanya soal tindak kriminal, tetapi juga soal cara mengasuh anak, hubungan keluarga, dan keberlanjutan sosial.

Child Grooming: Kejahatan yang Tumbuh dalam Relasi Kepercayaan

Secara akademik, child grooming dipahami sebagai proses bertahap yang dilakukan pelaku untuk membangun kepercayaan anak, menormalkan perilaku tidak pantas, dan melemahkan perlindungan dari orang dewasa di sekitarnya.

Craven, Brown, dan Gilchrist (2006) dalam artikelnya Sexual grooming of children: Review of literature and theoretical considerations menjelaskan bahwa grooming bukan peristiwa tunggal, melainkan rangkaian strategi psikologis yang melibatkan pemberian perhatian, hadiah, validasi emosional, serta isolasi korban dari figur pelindung.

Pendekatan ini menjadikan anak tidak hanya sebagai korban, tetapi sering kali merasa “terikat” secara emosional pada pelaku, sehingga sulit mengenali bahwa dirinya sedang dimanipulasi.

Dampak Psikologis Jangka Panjang pada Anak Korban
Grooming

Dampak dari grooming tidak hanya bersifat fisik tetapi juga psikologis, seperti depresi, kecemasan, bahkan trauma jangka panjang (Fadli, 2022). Anak-anak korban grooming sering kali mengalami isolasi sosial, ketidakpercayaan terhadap orang dewasa, hingga kehilangan kemampuan untuk bersosialisasi dengan normal (Salamor et al., 2020).

BACA JUGA:  Bantu Pengembangan Ekowisata Desa Darmasaba

Lebih lanjut, dilansir dari Halodoc.com, Trauma akibat manipulasi emosional disebutkan dapat memiliki dampak yang merusak pada kesehatan mental dan emosional seseorang. Beberapa dampak negatifnya meliputi depresi dan kecemasan, Gangguan Stress Pasca Trauma (PTSD), harga diri rendah, kesulitan mempercayai orang lain, isolasi sosial.

Inilah yang tercermin secara emosional dalam Broken Strings: luka yang tidak selalu terlihat, tetapi menetap dan memengaruhi perjalanan hidup seseorang.

Peran Strategis Program Prioritas Kemendukbangga/BKKBN

Posisi Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Kemendukbangga)/BKKBN sangat penting karena child grooming berakar kuat pada pola pengasuhan, kualitas relasi keluarga, dan ketahanan anak–remaja, yang merupakan mandat utama kementerian tersebut. Child grooming tumbuh subur ketika relasi dalam keluarga lemah, komunikasi minim, dan kebutuhan emosional anak tidak terpenuhi.

Kemendukbangga/BKKBN berperan memperkuat keluarga melalui kebijakan dan program pembangunan keluarga, antara lain:

Taman Asuh Sayang Anak (TAMASYA): Lingkungan Aman
Sejak dini

Taman Asuh Sayang Anak (TAMASYA) memiliki hubungan yang sangat signifikan dengan upaya pencegahan perbuatan grooming anak karena program ini menjamin anak berada dalam lingkungan pengasuhan yang aman, terstandarisasi, dan berorientasi pada kepentingan terbaik anak, terutama bagi keluarga dengan orangtua yang bekerja.

Child grooming sering dimulai dari hubungan pengasuhan yang tidak terjaga, ketika anak sangat bergantung secara emosional pada satu sosok dewasa dan tidak memiliki ruang yang aman untuk membedakan antara perhatian yang sehat dan yang manipulatif.

Melalui TAMASYA, pengasuhan dilakukan dengan cara yang terbuka, profesional, dan diawasi secara berlapis, serta diiringi dengan pendidikan untuk pengasuh dan orang tua mengenai perlindungan tumbuh kembang anak serta batasan relasi yang sehat antara orang dewasa dan anak.

BACA JUGA:  Semarak Bulan Bahasa Bali di UPMI, Cerdas Cermat Diikuti Belasan Tim SMA/SMK se-Bali

Oleh karena itu, TAMASYA berperan sebagai langkah pencegahan yang bersifat struktural yang menutup kemungkinan terjadinya manipulasi emosional sejak usia dini dan memperkuat peran keluarga sebagai pelindung utama anak.

GenRe: Literasi dan Ketahanan Remaja

Program Generasi Berencana (GenRe) memiliki  keterkaitan langsung dengan  upaya  pencegahan child grooming karena berperan dalam menciptakan ketahanan diri, pemahaman, dan kesadaran pada remaja mengenai hubungan yang sehat dan aman. 

Praktik child grooming pada usia remaja sering kali muncul melalui teknik manipulasi emosional, bujukan, dan penyesuaian perilaku yangtidak layak, terutama dalam digital, ketika remaja belum sepenuhnya memahami batasan diri dan relasi yang tepat. 

Melalui GenRe, remaja  diberikan pengetahuan mengenai kesehatan reproduksi, keterampilan hidup, pengambilan keputusan yang bijak, serta pemahaman  digital, sehingga mereka dapat mengidentifikasi tanda-tanda awal manipulasi, memiliki keberanian untuk menolak hubungan yang berbahaya, dan mencari bantuan ketika merasa terancam. 

Dengan meningkatkan kemampuan remaja sebagai individu yang berdaya dan menyadari hak mereka, GenRe berperan sebagai alat signifikan dalam mencegah child grooming sejak tahap peralihan dari anak ke dewasa.

GATI: Menguatkan Figur Pelindung

Gerakan Ayah Teladan Indonesia (GATI) memiliki hubungan penting dengan pencegahan child grooming karena menekankan kehadiran ayah sebagai figur pelindung, pendamping emosional, dan teladan dalam pengasuhan anak.

Child grooming kerap berkembang dalam ruang kosong relasi, ketika anak merasa kurang diperhatikan, tidak memiliki tempat aman untuk bercerita, atau tidak mendapatkan batasan yang jelas dalam relasi dengan orang dewasa lain.

Melalui GATI, keterlibatan ayah dalam kehidupan sehari-hari anak diperkuat, baik dalam komunikasi, pengawasan, maupun pembentukan nilai, sehingga anak merasa aman, didengar, dan terlindungi.

Kehadiran ayah yang hangat dan responsif membantu memperkuat ketahanan emosional anak serta meningkatkan keberanian anak untuk mengungkapkan pengalaman tidak nyaman. Ini menjadikan GATI sebagai bagian penting dari upaya pencegahan child grooming berbasis keluarga.

BACA JUGA:  Tempuh S2 untuk Mewarnai Perkembangan Teknologi Pendidikan

Menjaga Anak, Menjaga Masa Depan

Fenomena Broken Strings seharusnya tidak berhenti sebagai wacana viral, tetapi menjadi momentum refleksi kolektif. Child grooming tumbuh subur ketika relasi keluarga rapuh, komunikasi terputus, dan pengasuhan kehilangan sentuhan empati.
Melalui penguatan keluarga, pengasuhan yang aman, literasi anak dan remaja, serta keterlibatan aktif ayah dan ibu, upaya pencegahan dapat dilakukan sejak dini.

Program Kemendukbangga/BKKBN menunjukkan bahwa melindungi anak bukan hanya tanggung jawab individu, melainkan komitmen bersama dalam membangun generasi yang sehat, berdaya, dan bebas dari luka yang seharusnya tidak mereka warisi.*

Penulis: Arie Listiani (Kemendukbangga/BKKBN Perwakilan Bali).

 

BERITA TERKINI

TERPOPULER

Scroll to Top