Gung Sri mengajak, generasi muda Bali untuk bangga memakai bahasa Bali sebagai budaya adi luhung warisan leluhur. "Bahasa Bali itu keren dan gaul, ada pantunnya juga. Jadi bukan bahasa kampungan. Bahasa Bali adalah ibu," pungkasnya.
Setelah berlangsung sepanjang hari, dewan juri memutuskan para jawara. Untuk Juara Lomba Cerdas Cermat, Juara I Tim Tri Jana Smasta dari SMA Negeri 1 Tabanan, disusul Tim Smadara dari SMA Negeri Semarapura di posisi III, dan Juara III Tim Nesa Ubud dari SMA Negeri 1 Ubud.
Sedangkan pemenang Nyurat Aksara Bali, Juara I diraih Ni Komang Putri Yuliantari dari SMA Negeri 1 Manggis, Karangasem, Juara II I Putu Aditya Permana dari SMA Negeri 2 Kuta Selatan dan Juara III diraih Luh Eka Sri Widya Widani dari SMA Negeri 3 Kuta Selatan.
Rektor UPMI Bali Prof. Dr. Drs. I Made Suarta, SH., M.Hum., mengapresiasi antusiasme peserta yang hadir dari pelosok Bali. Membludaknya para peserta dari kalangan Gen Z menandakan bahasa ibu masih sangat dicintai.
Sebagai bentuk apresiasi, UPMI Bali memberikan berbagai hadiah bagi pemenang. Baik uang tunai, piagam dan buket. Baginya, semua peserta adalah pemenang. Semuanya hebat karena sudah berani tampil untuk mengawal keajegan salah satu budaya Bali.
"Untuk para peserta lomba ini, saya sarankan kuliah di UPMI kelak saat sudah lulus SMA/SMK. Kami sudah data namanya, kalau mereka daftar ada diskon spesial. Apalagi kalau memilih Prodi Bahasa Daerah," jelas Rektor.
UPMI, lanjut rektor, adalah perguruan tinggi yang konsen menjadi penjaga gawang budaya Bali melalui prodi-prodi yang dikelolanya. Bahkan Prodi Pendidikan Bahasa Daerah tetap dipertahankan meskipun peminatnya tidak terlalu banyak.










