
Para pimpinan TCI F. Par Unud, Poltekpar Bali, dan jajaran masing-masing.
MANGUPURA-sandybrown-gazelle-543782.hostingersite.com | Puluhan lampion berwarna merah yang diyakini sebagai penerang rezeki dan ornamen khas Tiongkok lainnya menghiasai Aula Politeknik Pariwisata (Poltekpar) Bali, Jumat (23/2/2024).
Atraksi wushu dan barong sai menambah semarak Lantern Festival 2024, siang itu, yang digelar oleh Tourism Confucius Institute (TCI) Fakultas Pariwisata Universitas Udayana (F. Par Unud).
Direktur TCI F. Par Unud Dr. I Made Sendra, M.Si., mengungkapkan, lantern festival merupakan rangkaian dari spring festival menyambut Hari Raya Imlek. Lantern festival dikenal juga dengan Cap Go Meh. Cap Go Meh termasuk tradisi Imlek yang dilaksanakan pada tanggal ke-15 bulan pertama tahun baru Imlek.
“Cap Go Meh melambangkan hari ke-15 sekaligus penutupan perayaan tahun baru Imlek. Cap artinya sepuluh, go lima dan meh malam. Jadi maknanya perayaan Tahun Baru Imlek berlangsung selama lima belas hari dan ditutup dengan Cap Go Meh,” jelas Sendra.
Menurut Sendra, setiap perayaan dalam siklus tahunan masyarakat Tiongkok secara umum dirayakan sebagai pesta rakyat. Tiongkok atau China pada masa lalunya adalah masyarakat agraris, sama dengan Indonesia, khususnya lagi Bali.
Di Bali, tepatnya di Desa Kapal, Mengwi, Badung, ada juga perang ketupat yang mencirikan masyarakat agraris. Dalam konteks ini, hubungan kebudayaan Bali dengan China semakin ditemukan kemiripan.
Dalam kaitannya dengan dunia pendidikan, lanjut Sendra, lantern festival di Kampus Poltekpar Bali, Nusa Dua, Badung, itu merupakan implementasi dari kerja sama yang telah dijalin antara TCI F. Par Unud dengan Poltekpar Bali.










