KUR BRI Katrol Produksi Usaha Pemindangan di Kusamba Hingga 300 Keranjang per Hari

IMG-20260525-WA0005
Pelaku usaha pemindangan ikan di Kusamba, Ni Wayan Suitari. (ist)

“Awalnya untuk jual keranjang dulu. Setelah berkembang baru jual garam dan bantu modal usaha pindang,” ujarnya.

Ia menilai akses KUR sangat membantu pelaku usaha kecil karena proses pencairan dinilai cepat dan persyaratan relatif mudah. Meski demikian, pihak bank tetap rutin melakukan pengecekan usaha nasabah untuk memastikan usaha berjalan aktif.

“Cepat cair dan mudah, tapi pihak bank sering datang mengecek usaha juga,” katanya.

Dalam operasional sehari-hari, pembeli biasanya datang membawa ikan mentah untuk direbus di lokasi pemindangan. Pelaku usaha memperoleh penghasilan dari biaya jasa perebusan, penjualan garam, hingga penjualan keranjang ikan.

Pembeli membawa ikan beserta kebutuhan produksi, kemudian membayar biaya jasa berdasarkan jumlah keranjang yang diproses.

Selain menghadapi fluktuasi pasokan ikan, pelaku usaha pemindangan juga dibebani tingginya biaya produksi, terutama kebutuhan garam. Suitari memilih menggunakan garam asal Bima, Nusa Tenggara Barat, karena dinilai lebih cocok untuk proses pemindangan. “Garam Bima lebih kasar dan lebih asin,” ujarnya.

Harga garam Bima mencapai sekitar Rp200 ribu per 50 kilogram. Sementara jika menggunakan garam lokal, kebutuhan produksi 400 keranjang ikan memerlukan sekitar 75 kilogram garam dengan biaya mencapai Rp500 ribu.

Biaya produksi lainnya berasal dari kebutuhan alat perebusan. Satu unit kompor berkapasitas besar mencapai sekitar Rp1 juta, belum termasuk tungku dan perlengkapan pendukung lainnya.

Meski biaya operasional terus meningkat, aktivitas pemindangan di Kusamba tetap berjalan hampir setiap hari dan menyerap tenaga kerja harian. Sentra pemindangan tersebut selama ini menjadi salah satu pemasok ikan pindang untuk pasar tradisional di Bali.

BERITA TERKINI

TERPOPULER

Scroll to Top