Kondisi Lingkungan Makin Buruk, Parta Minta Kampus “Teriak”

parta

Hanya pemandangan indahnya yang dinikmati sementara kebersihannya diabaikan. "Makin banyak yang berkunjung, makin jorok," kata dia.

Ia melanjutkan, pembabatan hutan juga marak terjadi di Bali. Sehingga tidak heran, banjir bandang mengepung setiap musim penghujan. Demikian pula sampah-sampah di pantai.

Dia sendiri mengaku, pernah bersitegang dengan oknum dinas kebersihan salah satu kabupaten di Bali karena urusan sampah pantai. Saat itu ia dan pegiat lingkungan sedang membersihkan pantai. Namun petugas itu berdalih akibat telat membersihkan karena pandemi, cuaca, sampah kiriman dan lain-lain.

Parta berharap, masyarakat Bali kembali berpedoman pada "pitutur tua" dan petunjuk sastra yang jelas-jelas melarang pengerusakan lingkungan. Bahkan, Bhagawadgita, mengatakan pahala mereka yang merawat lingkungan sangat istimewa. Bisa masuk surga.

Untuk jenis sampah di Bali, lanjut Parta, 64,8 persennya adalah sampah organik. Dari jumlah itu, 40 persennya itu sisa buah. Itulah yang menyebabkan bau menyengat seperti yang diributkan akhir-akhir ini. Padahal 40 persen itu bisa dikelola sebagai eco enzym. Cairan ramah lingkungan sejuta manfaat.

Dia sendiri bersama sejumlah komunitas secara konsisten membuat lubang biopori dan menebar eco enzym di berbagai wilayah di Bali. "Berdoa dan ingin saja tidak cukup. Ayo lakukan demi keseimbangan lingkungan," ajaknya.

Parta menilai, menjaga keseimbangan bumi, sumbernya dari diri sendiri. Sebab, tidak ada laut bersih jika sungainya kotor. Tidak ada sungai bersih jika paritnya kotor. Tidak ada parit bersih jika rumah-rumah kotor. Jadi kuncinya memang diri sendiri di rumah tangga.

BERITA TERKINI

TERPOPULER

Scroll to Top