Selain aspek estetika, pameran ini menyoroti peran vital studio sebagai ruang kolektif dan dialog. Karya yang ditampilkan merupakan hasil dari lingkungan kerja yang mendorong pertukaran ide antar seniman. Studio bukan lagi sekadar tempat produksi teknis, melainkan inkubator pemikiran di mana proses belajar dan bereksperimen menjadi nyawa utama dalam setiap karya yang dihasilkan.
Founder Devfto Printmaking Institute, Devy Ferdianto, menyatakan bahwa kehadiran lembaga ini bertujuan membangun ekosistem seni cetak yang terbuka di Bali. Baginya, sangat penting bagi seniman untuk memiliki ruang belajar di luar pendidikan formal agar mereka tetap dekat dengan mediumnya. Devfto hadir untuk memastikan proses kreatif dan pengembangan teknik printmaking terus berlanjut secara berkelanjutan.
Melalui Prints in Motion, Labyrinth Art Gallery tidak hanya memamerkan objek seni, tetapi juga mengedukasi publik mengenai kedalaman proses di baliknya. Kehadiran pameran ini memperkaya lanskap budaya Bali, menciptakan ruang interaksi yang lebih aktif dan reflektif antara seniman dan masyarakat. Inisiatif ini diharapkan mampu memicu gairah baru dalam perkembangan seni rupa kontemporer di tanah air. (M-001)










