Ketika Payangan, Tampaksiring, dan Tegallalang “Menjadi” Ubud

IMG-20261004-WA0015
Prof. Dr. Ni Putu Tirka Widanti, MM., M.Hum.

KEPOPULERAN Ubud sebagai magnet pariwisata dunia tak perlu diragukan lagi. Nama Ubud menjanjikan ketenangan, kebudayaan, seni, dan gaya hidup spiritual (wellness) yang dicari wisatawan dari berbagai belahan dunia.

Namun, di balik daya pikat merek (brand) yang begitu kuat tersebut, muncul fenomena pergeseran batas geografis dalam narasi media maupun promosi pariwisata.

Kini, tidak sedikit promosi akomodasi, tempat wisata, hingga iklan properti di wilayah tetangga—seperti Payangan, Tampaksiring, dan Tegallalang—secara sepihak melabeli diri mereka sebagai bagian dari "Ubud".

Fenomena pencatutan nama atau geographical mislabelling ini mendatangkan dilema: di satu sisi efektif untuk pemasaran, namun di sisi lain memicu kebingungan publik serta mengaburkan identitas asli kawasan-kawasan tersebut.

Demi Rating dan Daya Tarik Pemasaran

Penggunaan nama Ubud diluar batas wilayah administrativasinya sejatinya didorong oleh motif ekonomis. Bagi pelaku usaha dan agensi pemasaran, mencantumkan kata "Ubud" adalah cara tercepat untuk mendongkrak peringkat pencarian (search engine ranking), meningkatkan kepercayaaan calon pembeli, serta menaikkan nilai jual properti.

Banyak akomodasi komersial yang secara administratif berada di Kecamatan Payangan atau Tegallalang, namun secara terang-terangan mencantumkan "Ubud" pada nama bisnis maupun lokasi mereka di media sosial dan platform pemesanan.

Namun, hal ini memicu kekhawatiran dari berbagai pihak. Penggunaan nama yang tidak pada tempatnya berpotensi membingungkan masyarakat umum dan wisatawan, terutama terkait jarak tempuh, rute transportasi, hingga kejelasan informasi administratif.

BERITA TERKINI

TERPOPULER

Scroll to Top