Ketaksaan Dharma

IMG-20230417-WA0002

Bagaimana masyarakat Balimengartikulasikan Dharma dalam konteks modern, di mana tantangan etika dan moral semakinkompleks? Sebagai contoh, Bhagavad Gita Bab 3, Sloka 19 mengajarkan: “Tasmād asaktaḥ satataṁ kāryaṁ karma samācara, asakto hy ācaran karma param āpnoti pūruṣaḥ” (“Karena itu, lakukanlah kewajibanmu tanpa keterikatan. Dengan bertindak tanpa pamrih, seseorangmencapai Yang Tertinggi.”)

Sloka ini menekankan pentingnya bertindak dengan tulus, tanpa pamrih, sebagai bagian daripengamalan Dharma. Dalam konteks Galungan, hal ini bisa dimaknai sebagai ajakan untukmerenungkan, apakah tindakan kita selama perayaan, dan dalam kehidupan sehari-hari, telah didasari oleh keikhlasan dan kebenaran, bukan sekadar formalitas atau kewajiban sosial yang dangkal.

Inilah yang seharusnya menjadi fokus perayaan Galungan menegakkan tradisi yang dipenuhi ruh Dharma, bukan hanya ritual kosong.

Akhirnya, kita harus dibawa kembali pada kesadaran bahwa Galungan, dalam esensinya, adalahperayaan spiritual yang seharusnya membawa kita pada refleksi mendalam tentang kehidupan. Namun, jika masyarakat terus terjebak dalam rutinitas dan ritualisme yang hampa, maka makna sejati dari Galungan akan semakin pudar.

Bali, dengan kekayaan spiritualnya, berisiko kehilangan esensi Dharmajika masyarakat tidak mampu keluar dari siklus ritual yang dangkal. Oleh karena itu, diperlukan kesadaran kolektif untuk menghidupkan kembali makna Galungan sebagai momen introspeksi, pembaharuan spiritual, dan komitmen untuk menjalani kehidupan yang benar-benar selaras dengan Dharma.

BERITA TERKINI

TERPOPULER

Scroll to Top