Ketaksaan Dharma

IMG-20230417-WA0002

Di tengah tekanan sosial dan materialisme, ritual Galungan sering menjadi beban daripada kesempatan untuk mendekatkan diri pada nilai-nilai spiritual.
Keluarga-keluarga ini terjebak dalam rutinitas mempersiapkan upacara, lebih mengutamakan penampilan lahiriah daripada refleksi batin. Padahal, seharusnya Galungan menjadi waktu untuk meninjau apakah mereka telah hidup sesuai dengan Dharma.

Sebagai contoh, tidak sedikit yang lebih sibuk memperindah penjor di depan rumah ketimbangmerenungi bagaimana mereka bisa mengalahkan sifat-sifat buruk dalam kehidupan sehari-hari.

Generasi muda Bali juga terpengaruh oleh gaya hidup modern, memandang Galungan sebagai ajang sosial atau waktu libur. Misalnya, mereka lebih tertarik memposting foto-foto mereka dalam pakaian adatdi media sosial daripada merenungkan makna kemenangan Dharma atas Adharma. Jika masyarakat Bali terus terseret dalam arus materialisme dan rutinitas tanpa pemaknaan, perayaan Galungan berisikokehilangan makna spiritualnya, hanya menjadi ritual kosong yang jauh dari refleksi batin yang sejatinya diperlukan.

Perayaan atau Formalitas?Dalam perspektif yang lebih kritis, ada kegagalan mendalam dalam pemahaman akan esensi Galungan. Banyak masyarakat yang menjalankan ritual ini lebih karena tekanan sosial atau kewajiban ketimbang karena kesadaran spiritual. Mereka khawatir dilihat sebagai “kurang religius” jika tidak menjalankan upacara dengan sempurna, sehingga fokus beralih pada aspek lahiriah dan bukan pada makna batiniah.

Akibatnya, Galungan lebih sering dirayakan sebagai formalitas, sebuah peristiwa budaya yangmewajibkan pengeluaran besar untuk sesajen dan hiasan, tapi hampa dalam hal refleksi spiritual.Fenomena ini menunjukkan ketaksaaan pemahaman Dharma itu sendiri.

BERITA TERKINI

TERPOPULER

Scroll to Top