Apa yang seharusnya menjadi perayaan kemenangan spiritual atas godaan duniawi justru tenggelam dalam ritualisme.
Ironisnya, semakin megah upacara yang dilakukan, semakin dangkal pemahaman yang tersisa tentang ajaran moral di baliknya.
Seberapa banyak yang benar-benar merasakan kemenangan Dharma dalam kehidupan mereka? Atau sebaliknya, apakah Adharma justru mengambil bentuk baru melaluikeserakahan, kemewahan, dan penekanan pada penampilan luar?
Merevitalisasi Galungan: Lebih dari Sekadar Ritual Masyarakat Bali, jika ingin memulihkan makna Galungan, harus keluar dari pola pikir ritualistik yang dangkal dan menuju pemahaman spiritual yang lebih mendalam. Ritual memang penting, tetapi yang lebih penting adalah bagaimana nilai-nilai yang terkandung dalam ritual tersebut diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Galungan seharusnya menjadi momen refleksi, bukan hanya tentang persiapan fisik, tetapi juga tentang bagaimana prinsip Dharma diterapkan dalam konteks modern. Ini berarti meninjau ulang cara kita bekerja, berinteraksi, dan hidup.
Apakah kita sudah mengamalkan kebenaran dan kebajikan dalam tindakan kita sehari-hari? Atau kita hanya menjalankan ritual kosong tanpa esensi?
Kekeliruan terbesar yang terjadi adalah melihat Galungan sebagai sesuatu yang statis, ketikaseharusnya Dharma adalah konsep yang dinamis dan berkembang. Dharma menuntut pemahamanserta penerapan yang relevan dengan tantangan zaman.
Dalam dunia yang terus berubah, apakahprinsip-prinsip Dharma yang diajarkan dalam teks-teks kuno masih relevan?










