Kepada tokoh agama, tokoh adat, tokoh masyarakat, dan pemerintah daerah disarankan untuk meningkatkan kolaborasi dalam menyikapi makin maraknya hubungan seks pranikah di kalangan remaja, sekaligus menyosialisasikan kembali pentingnya perkawinan sebagai satu-satunya institusi yang sah, baik menurut hukum agama dan hukum negara, dalam upaya mendapatkan keturunan, serta kebahagiaan keluarga.
Pada masyarakat Bali juga disarankan agar mengkritisi kembali bahwa wacana 'sing beling sing nganten' karena keluarga harmonis, sejahtera, dan bahagia tidak ditentukan oleh keberadaan keturunan (sentana) semata-mata, tetapi lebih penting lagi adalah bagaimana membentuk karakter generasi yang suputra.
Menariknya, penelitian disertasi dr. Luhde bakal digunakan sebagai materi dharma wacana di seluruh desa adat se-Bali. Hal itu dikatakan langsung Bandesa Agung Mejelis Desa Adat Provinsi Bali Ida Panglingsir Agung Putra Sukahet yang hadir sebagai undangan.
Temuan-temuan baru dalam penelitian dr. Luhde, menurut Putra Sukahet membuka lebih luas lagi cakrawala masyarakat Bali tentang pergeseran-pergeseran idiologi di masyarakat, terutama menyangkut generasi muda.
"Menurut Ratu, ini luar biasa. Ratu akan jadikan bahan dharma wacana di setiap desa adat," kata Putra Sukahet.
Dalam proses pendidikan doktoralnya, dr. Luhde dipromotori oleh Prof. Dr. I Nyoman Weda Kusuma, MS., Kopromotor I Dr. Nanang Sutrisno, S.Ag.,M.Si., dan Kopromotor II Dr. Drs. I Wayan Suardiana, M.Hum.
Bertindak selaku Ketua Peguji Disertasi, Prof. Dr. I Nyoman Darma Putra, M.Litt., dengan anggota Prof. Dr. I Nyoman Suarka, M.Hum., Dr. dr. AA Gede Raka Budayasa, Sp.OG , Subsp.K.Fm., Dr. Dra. Ni Desak Made Santi Diwyatrhi, M.Si., dan Dr. Ni Made Ary Widiastini, S.ST.Par., M.Par.










