Menurut dia, implikasi pergulatan ideologi gender meliputi domestikasi perempuan, beban berlipat ganda (multiple burden) perempuan, munculnya kesadaran sing nganten sing beling, dan kompromi ideologis yang lebih reorientasi pada tujuan perkawinan.
Ia membeberkan ada tiga temuan penting dari disertasi ini. Pertama, wacana sing beling sing nganten tidak memiliki akar genealogi tekstual dan historis, tetapi dikonstruksi oleh common sense sehingga meskipun cacat secara intelektual, wacana ini memengaruhi nalar dan tindakanpublik dalam kultur perkawinan adat Bali.
Kedua, keyakinan tentang pentingnya keturunan atau sentana yang dilanggengkan oleh narasi adat, sosial, dan agama membangun kekuasaan wacana sing beling sing nganten.
Namun wacana ini juga dapat dijadikan kontrahegemoni terhadap wacana pendisiplinan pengaturan anak yang menyebabkan masalah demografis di sejumlah negara, seperti rendahnya tingkat kelahiran dan fenomena childfree yang marak di kalangan remaja.
Ketiga, wacana ini dapat dijadikan alat perjuangan kewacanaan (discourse struggling) dengan mengubah paradigma ‘sing beling, sing nganten’ menjadi ‘sing nganten, sing beling’ untuk memberikan keadilan kepada perempuan Bali dalam perkawinannya, tanpa harus kehilangan peran keperempuanan-nya.
Ia berharap para akademisi untuk mengembangkan studi tentang wacana sing beling sing nganten dengan beragam perspektif.
Kepada pemerintah pusat dan daerah ia menyarankan untuk mengintensifkan program edukasi pada remaja tentang penyiapan kehidupan keluarga berkualitas melalui perencanaan yang baik melalui kolaborasi multisektoral.










