Menurutnya, fotografi bukan sekadar aktivitas menekan tombol kamera. Proses menghasilkan sebuah potret membutuhkan komunikasi dan rasa antara fotografer dengan subjek yang berada di depan kamera.
“Yang paling penting adalah ternyata hubungan antara manusia dan manusia di luar sebagai pekerjaan kita itu menarik. Sangat menarik,” katanya.
Karena itu, Darwis menilai karya fotografi perlu mendapatkan apresiasi sebagai bagian dari karya seni, bukan semata-mata dipandang sebagai hasil dari perangkat teknologi.
Dalam perjalanan berkaryanya, Darwis juga mendalami berbagai teknik pencahayaan dalam fotografi, salah satunya Rembrandt lighting. Untuk memahami teknik tersebut, ia bahkan datang langsung ke Belanda dan Amsterdam untuk melihat serta mempelajari karya Rembrandt. Bagi Darwis, cahaya merupakan elemen utama dalam fotografi. “Fotografi itu cahaya. Tanpa cahaya kita tidak bisa motret,” katanya.
Namun, ia tidak memandang cahaya hanya sebagai persoalan teknis dalam menghasilkan gambar. Cahaya juga menjadi bagian dari filosofi kehidupan dan energi manusia.
“Saya bilang matahari itu sumber cahaya, sumber kehidupan, sumber energi. Saya belajar bagaimana mengelola cahaya, bagaimana mengelola energi, bagaimana mengelola cara hidup kita,” ungkapnya.
Pemahaman tersebut menjadi bagian dari perjalanan panjang Darwis dalam mengembangkan karakter fotografi sekaligus melihat manusia sebagai subjek utama dalam karyanya.
Salah satu pengalaman yang berkesan baginya adalah ketika mendapat kesempatan memotret Presiden ke-7 RI, Joko Widodo. Menurut Darwis, sosok Jokowi memberikan ruang yang menarik untuk dieksplorasi melalui fotografi seni.










