Diterangkannya, dalam proses pencarian kapal selam Nanggala 402 pihaknya mengerahkan sebanyak 5 KRI dan satu helicopter berikut kekuatan 400 orang. Sedangkan Kapal Hidro-Oceanografi TNI AL yakni KRI Rigel 933 yang sebelumnya digunakan untuk pencarian tenggelamnya pesawat Sriwijaya Air, juga sudah bergerak.
Diungkapnya, saat ini muncul berita adanya penemuan tumpahan minyak dan solar disejumlah lokasi berbeda. Dimana, temuan terlihat secara visual yang pertama oleh heli Phanter AS4201 di posisi 07°49 menit 24 detik Lintang Selatan, 114°50 detik 58 menit Bujur Timur dengan radius area seluas 150 meter.
Temuan itu juga didapat KAL Bawean namun lokaso tidak dilaporkan. Lalu, Kapal jenis Fregat KRI Raden Edi Martadinata (REM) 331 juga menemukan tumpahan minyak di posisi 07°51 menit 92 detik Lintang Selatan, 114°51 menit 77 detik Bujur Timur dengan luas area kurang lebih sama 150 meter.
Selain temuan tumpahan minyak, KRI REM juga melaporkan secara lisan telah terdeteksi kontak pergerakan dibawah air dengan kecepatan 2,5 knot. Hanya saja, kontak tersebut mendadak hilang.
"Masih belum cukup data untuk mengidentifikasi kontak yang dimaksud sebagai kapal selam. Jadi kami tegaskan dari berita yang beredar terkait penemuan-penemuan itu, belum bisa digunakan sebagai dasar sebagai acuan lokasi keberadaan KRI Nanggala 402. Saya berharap rekan media agar tidak membuat analisa dan memberitakan yang belum bisa dipastikan kebenarannya," bebernya.










