Lebih lanjut, Putri Koster menyampaikan pentingnya pelindungan hukum dan komitmen bersama untuk menjaga kelestarian ragam motif khas daerah, seperti kain endek dan songket yang kini telah mendapatkan hak kekayaan intelektual. "Sekarang kita fokus pada endek. Di era pemerintahan Bapak Gubernur Bali, I Wayan Koster, itu endek dan songket sudah memiliki perlindungan hukum berupa hak kekayaan intelektual komunal. Jadi mari bersama-sama kita jaga, jangan sampai karena pengaruh ekonomi itu kita bergerak menjauh dari pelestarian," paparnya.
Ia juga memaparkan keunikan kekayaan kain tenun Bali yang sangat spesifik dan diakui secara internasional, salah satunya adalah teknik pembuatan kain gringsing di Desa Tenganan. "Bersyukur kita di Bali khususnya, itu memiliki karena teknik membuat motif di atas kain dengan double ikat ini sangat langka di dunia. Indonesia ada satu-satunya di Bali, dan di Bali pun hanya ada di Desa Tenganan," tambah Putri Koster seraya menegaskan kebanggaan atas kriya tekstil lokal.
Sementara itu, pihak penyelenggara menekankan bahwa Journey of Wastra dirancang sebagai ruang inovasi agar kriya tradisional Nusantara dapat terus relevan dengan perkembangan zaman.
General Manager Discovery Kartika Plaza Hotel, Luis Daniel Garcia, menyampaikan bahwa acara ini berakar dari apresiasi terhadap proses panjang pengerjaan warisan budaya. "Melalui kreativitas para desainer kami, kami berharap untuk melihat bagaimana warisan ini terus berkembang sambil tetap berakar pada budaya kami," ujar Luis Daniel Garcia dalam sambutannya.









