Petugas juga menyita empat unit laptop dan lima telepon genggam yang diduga digunakan untuk menjalankan aktivitas perjudian online.
Berdasarkan hasil penyidikan, para pelaku memiliki tugas berbeda. Wildan bertugas melayani komunikasi dengan pemain melalui fitur percakapan langsung atau live chat. Sementara itu, ketiga terdakwa perempuan bertugas mencari pemain, menawarkan situs judi, menyebarkan tautan aplikasi, serta membantu calon pengguna melakukan pendaftaran dan deposit.
Dari aktivitas tersebut, Wildan disebut menerima gaji Rp8 juta per bulan. Indri memperoleh Rp11,4 juta ditambah bonus Rp8 juta, sedangkan Mikha dan Ramona masing-masing menerima Rp2,5 juta per bulan.
Sebelum beroperasi di Bali, jaringan tersebut diduga pernah menjalankan aktivitasnya di Filipina pada 2024. Setelah markasnya dibongkar aparat setempat, kelompok ini berpindah ke Kamboja. Pada Januari 2026, mereka kembali menghadapi penggerebekan di negara tersebut.
Para terdakwa kemudian meninggalkan Kamboja dan tiba di Bali pada 21 Januari 2026. Setibanya di Bali, mereka sempat menjalankan aktivitas dari sebuah hotel di kawasan Benoa. Sekitar dua pekan kemudian, mereka menyewa rumah di Jalan Pratama, Gang Hasan, untuk dijadikan pusat operasional. Mikha dan Ramona, yang merupakan saudara kandung Indri, kemudian bergabung setelah datang dari Jakarta.
Penyidik juga mengungkap dugaan keterlibatan pihak lain dalam pengendalian jaringan tersebut. Situs judi Ketua.co diduga dikendalikan warga negara China berinisial PNJ yang berada di Kamboja. Sementara itu, situs GN77 disebut berada di bawah kendali pria berinisial CND yang diduga menjalankan operasional dari Kalimantan.









