Jaring 15 Peserta, Lomba Bapang Barong dan Makendang Tunggal Primadona Utsawa Bali Sani

IMG-20260928-WA0070
Lomba “Bapang Barong dan Makendang Tunggal”, pada Minggu (27/9/2026), bertempat di Jaba Sisi Pura Maha Widya Mandira UNHI. ist

DENPASAR-fajarbali.com | Utsawa Bali Sani (UBS) ke-11 Tahun 2026, Universitas Hindu Indonesia (UNHI) dirangkai dengan berbagai lomba atau wimbakara “Bapang Barong dan Makendang Tunggal”, pada Minggu (27/9/2026), bertempat di Jaba Sisi Pura Maha Widya Mandira UNHI.

Bapang barong dan makendsng tunggal menjadi primadona di even UBS. Lomba ini sebagai wujud konsistensi dan komitmen UNHI, bahwa bapang barong dan makendang tunggal menjadi salah satu ikon dalam pelaksanaan Utsawa Bali Sani. Lomba bapang barong dan makendang tunggal diikuti oleh 15 peserta dari tingkat SMA/SMK se-Bali. 

Sebagai bentuk apresiasi UNHI kepada seniman muda Bali, pelaksanaan lomba ini tidak dipungut biaya pendaftaran.

Koordinator Lomba, I Made Sugiarta mengungkapkan, bahwa lomba ini sebagai upaya UNHI dalam merawat dan melestarikan tradisi budaya Bali. Lomba ini menghadirkan tiga orang dewan juri, dua diantaranya menilai bapang barong, dan satu orang menilai makendang tunggal. 

Dari 15 peserta yang mengikuti lomba, kemudian dicari tiga besar pemenang. Para pemenang akan diberikan apresiasi berupa piagam penghargaan dan uang pembinaan.

Sementara itu, juara satu lomba bapang barong dan makendang tunggal juga diperkenankan untuk tampil saat pementasan Calonarang “Aji Kakereb” Ida Sasuhunan Napak Pertiwi, di Jaba Sisi Pura Maha Widya Mandira UNHI, pada Selasa (29/9/2026).

“Juara 1 penari bapang barong dan makendang tunggal kami ajak untuk ngaturang ngayah, nyolahang Ida Sasuhunan yang berstana di Pura Maha Widya Mandira UNHI. Tepatnya saat nyineb yang dirangkai dengan pementasan Calonarang “Aji Kakereb” Ida Sasuhunan Napak Pertiwi,” jelasnya. 

Adapun kriteria penilaian, lanjut Sugiarta, lomba kali ini menekankan pada teknik, keserasian atau keharmonisan antara kendang dan gerak penari, serta penampilan. Penampilan ini, kata dia, menyangkut kelengkapan busana, tata panggung, dan ngunda bayu (pengaturan napas). Durasi penampilan maksimal 13-15 menit. 

BACA JUGA:  Disbud Bali Berhasil Diidentifikasi 12 Lontar Naskah Kuno di Buleleng 

“Kami berharap festival Utsawa Bali Sani tetap diselenggarakan setiap tahunnya. Sehingga, salah satu seni yang menjadi ikon pada festival ini yaitu bapang barong dan makendang tunggal semakin eksis,” ungkap Sugiarta.

Sebelumnya, Utsawa Bali Sani Tahun 2026 dibuka Menteri Kebudayaan RI, Fadli Zon, pada Kamis (24/9/2026). UBS Tahun 2026 mengusung tema “Prabha Niti Widya Sani Prawartana”, yang artinya “Semangat Bersama Mengembangkan Ilmu Pengetahuan dan Seni”.

Utsawa Bali Sani berlangsung 24–29 September 2026, sekaligus dirangkaikan dengan Dies Natalis ke-63 UNHI dan Pujawali di Pura Maha Widya Mandira UNHI. Berbagai kegiatan dan pertunjukan seni akan menghadirkan beragam bentuk kreativitas yang mencerminkan kekayaan budaya Bali.

Sebagai institusi pendidikan tinggi yang masih bersandar pada pola ilmiah pokok agama dan kebudayaan, UNHI tidak hanya fokus pada pengembangan akademik dan riset modern, tetapi juga konsisten merawat akar kebudayaan Nusantara pada umumnya dan Bali khususnya.

Melalui Utsawa Bali Sani 2026, diharapkan tidak hanya menjadi sebuah perhelatan seni, tetapi juga menjadi ruang pembelajaran dan apresiasi yang mampu memperkuat rasa bangga terhadap identitas budaya Bali. [gde]

BERITA TERKINI

TERPOPULER

Scroll to Top