Jalan Hidup Nyoman Pageh, Ditunjuk sebagai Pemangku Sejak SMP, Kini Lanjutkan Tradisi Leluhur Lewat Berbagai Aktivitas 

u10-IMG-20251217-WA0015
Jero Mangku I Nyoman Pageh.

DENPASAR-fajarbali.com | Halaman rumah di kawasan Jalan Tunjung Sari, Padangsambian, Denpasar itu tidak terlalu luas. Dari luar pagar, ratusan bonsai dan bermacam pohon anggrek sudah menyapa lembut. Teras rumah milik Jero Mangku Nyoman Pageh (59), hanya cukup menyisakan empat kursi bagi tamu.

Gerimis hujan, secangkir kopi manis serta minuman khusus yang tersimpan di dalam guci bersejarah zaman kolonial menjadi pembuka percakapan awak media ini dengan Mangku Pageh-sapaannya-, Senin (15/12/2025).

Sambil memperbaiki letak kaca matanya, Mangku Pageh mulai menceritakan kisah hidupnya. Ratusan bonsai beraneka ukuran yang meluber hingga ke depan gang rumahnya merupakan koleksi pribadinya. Mangku Pageh bahkan menggali sendiri bakal bonsai tersebut. Menaiki bukit, menyusur sungai.

Dunia perbonsaian memang menjadi salah satu penghasilannya. "Kalau ada yang cocok harga, saya jual. Saya juga nerima jasa perawatan bonsai 'home care'. Sudah puluhan tahun," jelas Mangku Pageh.

Selain bonsai, pria asli Desa Antiga (Desa Pakraman Angantelu) Manggis, Karangasem ini juga tersohor sebagai undagi perangkat ngaben, khususnya wadah bade dan patulangan. Karya Mangku Pageh yang paling fenomenal adalah Bade Mas Tumpang Tujuh milik Pasemetonan Sira Arya Tangkas Kori Agung lan Arya Kuta Waringin.

Ngaben gabungan dua pasemetonan se-Kecamatan Manggis itu, berlangsung 14 Agustus 2024. Karya Mangku Pageh CS mencatat rekor. Bade paling besar, tingginya lebih dari 30 meter menantang langit. Pun demikian dengan patulangan singa merah, tak kalah menyedot perhatian publik.

Puncak ngaben hari itu seolah menjadi atraksi wisata. Sebab banyak wisatawan mancanegara datang secara khusus mengabdian momen ngaben massal di jebag desa hingga berakhir di Setra Desa Adat Angantelu. Edisi ngaben sebelumnya, 2016, karya Mangku Pageh CS juga tergolong sukses menyedot antusiasme publik.

BACA JUGA:  Kesenian Jembatan Membangun Rasa, Estetika, dan Mandala Pengetahuan

"Saya bekerja dengan tim. Tapi sketsa awal saya bikin dengan tangan. Manual," kenangnya. Jejak digital karyanya tentu bisa diakses dengan mudah di internet.

Karya seni berupa ogoh-ogoh juga tak luput dari keahliannya. Ia dan tim, pernah menjuarai lomba ogoh-ogoh tingkat desa sekitar tahun 1997. Kerja sama dengan seniman lokal mampu menghasilkan patung raksasa yang bergerak. Zaman itu, seniman desa ini sudah mampu mengaplikasikan sistem mekanik.

Bapak satu anak ini juga berprofesi sebagai pemborong bangunan. Sejumlah proyek telah diselesaikan sejak masih remaja. Di sela waktu senggang, Mangku Pageh memanfaatkan waktu melukis di atas kanvas dan membuat kesenian relief.

Seolah dianugerahi bakat oleh alam, tidak jarang ada orang yang datang berobat hingga meminta bantuan "nerang". Bidang usadha dan 'penerangan' menjadi 'skill plus' pria lulusan sekolah keguruan ini.

"Kalau soal "malianin" dan "nerang" itu kan tergantung kepercayaan orang ya. Saya tidak pernah promosi. Mereka datang, percaya, ya saya mohonkan kepada Ida Sesuhunan. Saya bukan orang sakti," tegasnya.

Terkait pengobatan atau usadha, ia mengaku mewarisi sejumlah lontar dari leluhurnya. Dulu almarhum pamannya juga dikenal sebagai dukun beranak di kampung. Tak terhitung berapa bayi yang berhasil ditolong. Jauh sebelum bidan-bidan dari dunia akademis itu masuk ke pelosok desa.

Soal ilmu "nerang", ia mengaku berguru pada seseorang, ditambah belajar sendiri dari berbagai sumber lontar. Hal ini, menurut dia, tidak bisa sembarangan dilakukan agar tidak "campah". Sedangkan darah seni, diyakini mengalir dari sosok ibunya yang berasal dari Desa Pejeng, Gianyar.

Di era kemajuan teknologi, Mangku Pageh memadukan Panca Dauh dengan prediksi Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG). Kalau hari H saat nerang masuk dalam Dauh Brahma, dan prediksi BMKG cerah, maka ia relatif tenang.

BACA JUGA:  ‘Doa’ Hantui Managemen Seni di Bali

Sebaliknya, jika Dauh Wisnu, Mangku Pageh bekerja lebih ekstra karena potensi hujan tinggi. "Sebetulnya kita hanya memohon ya. Bukan menghentikan hujan. Mohon kepada penguasa alam agar berkenan hujannya dipindahkan tujuannya yang punya hajatan biar lancar," jelasnya.

Terlepas dari berbagai keahliannya itu, Mangku Pageh kecil tergolong anak yang bandel dan malas belajar. Memasuki bangku SMP, hampir setiap hari dirinya bolos. Pergi dari rumah berseragam sekolah. Saat jam pulang, turut bergegas. Air dicipratkan ke mukanya. Maksudnya untuk menipu sang bibi yang mengasuhnya di kampung agar tampak berkeringat mengayuh sepeda dari sekolah yang jaraknya sekitar 4 kilo meter.

Kebiasaan buruknya itu membuat dirinya dipindahkan ke SMP swasta terdekat. Tidak ada perubahan signifikan dalam dirinya. Di saat teman-teman sekelasnya sibuk belajar hingga larut malam, ia memilih tidur.

Dari sinilah ia menyadari bahwa alam memberikan kelebihan pada dirinya. Meski tidak pernah belajar, namun ia sanggup melahap soal-soal ulangan. Tak jarang nilainya melampaui teman yang rajin belajar. Kelebihan ini pula yang membawanya lolos seleksi sekolah calon guru di Denpasar. Sempat mengabdi dua tahun menjadi pendidik, ia memilih jalur lain.

Ada satu kisah yang tidak mungkin dia lupakan. Ketika masih SMP, pura dadianya menggelar pemilihan pemangku secara "nyanjan". Pageh yang merasa masih kecil, justru terpilih secara niskala. Ia pun lari, menolak mentah-mentah pilihan itu. Bahkan saat itu ia sempat berteriak lebih baik mati daripada menjadi pemangku yang tak terbayangkan betapa berat tugas melayani umat.

Sekuat-kuatnya manusia menolak kehendak alam, toh juga akhirnya luluh juga. Belasan tahun kemudian, saat pageh bertemu jodoh, ia pun menyanggupi 'ngayah' sebagai pemangku di pura dadianya.

BACA JUGA:  Pentingnya Ketahanan Budaya bagi Indonesia

Kini, pageh dan istrinya menjalani hidup sederhana. Putri semata wayangnya disekolahkan hingga jenjang doktoral meski masih dalam proses studi. Mangku Pageh menyadari bahwa sebaik-baik warisan adalah pendidikan.

Lontar usadha yang ia warisi dianggap sebagai upaya meneruskan tradisi leluhur, melalui praktik nyata membantu sesama. Demikian pula keterampilan lainnya merupakan upaya kecil melestarikan budaya berbasis kearifan lokal Bali. 

BERITA TERKINI

TERPOPULER

Scroll to Top