Hasil deteksi tersebut, akan dibuatkan program lanjutan disertai aksi nyata. Sehingga pihaknya ingin merubah persepsi bahwa kedatangannya tidak sekadar bertanya, namun memberi solusi dari dimensi kesehatan.
Mahasiswa yang dipercayakan oleh Rektor Itekes ini, sudah sangat matang dari kompetensi mau pun usia, sebab mereka telah diwisuda sebagai sarjana keperawatan, namun karena perintah undang-undang mereka wajib menempuh pendidikan profesi ners selama satu tahun, dan PKL ini sangat pas untuk menimba ilmu.
Pembukaan PKL Itekes Bali disaksikan Kepala Puskesmas Payangan dr. Made Arisani.
Darma Suyasa memastikan program kerja sama dengan Desa Melinggih berkelanjutan. “Memang biasanya gencar di awal tapi tidak ada tindaklanjut. Tapi kami pastikan kerja sama ini berkelanjutan. Meski pun hasil yang kami berikan tidak berupa infrastruktur langsung,” tegasnya.
Ia pun siap mendukung program-program Perbekel Melinggih, terutama di bidang pembangunan kesehatan lansia.
Darma Suyasa bahkan menawarkan layanan-layanan yang dimiliki Itekes Bali, seperti akupuntur. Diketahui, Prodi Akupuntur ini sangat langka, hanya tiga perguruan tinggi di Indoensia yang memilikinya.
“Kalau pak perbekel mau, kita sediakan layanan akupuntur. Kami sampai kirim lima dosen menempuh S2 di China. Sekarang mereka sudah kembali. Bagi adik-adik di sini yang mau kuliah, juga kami buka pintu lebar,” pungkas Darma Suyasa.
Sebelumnya, Ketua Panitia PKL, Ns. I Kadek Nuryanto, S.Kep., MNS., ditemui di sela Pembukaan PKL di Kantor Perbekel Melinggih, Senin (19/9), mengungkapkan, PKL tersebut merupakan salah satu bentuk Tri Darma Perguruan Tinggi agar mahaiswa bisa memberikan kontribusi untuk dapat membantu pemerintah dalam mengenal, mengatasi, dan meningkatkan kesehatan masyarakat dengan bekerja bersama masyarakat sehingga cita cita tercapainya derajat kesehatan masyarakat terwujud.











