Kemenangan di Bali menjadi comeback manis bagi Heslop setelah absen selama 18 bulan akibat cedera dan operasi punggung. Atlet berusia 24 tahun itu terakhir kali tampil pada November 2024 usai meraih gelar juara dunia di Sydney.
Di tengah ombak besar Broken Beach, Heslop mencuri perhatian lewat loncatan dari platform setinggi 27 meter. Ia bahkan memperoleh nilai 9 dari juri pada ronde kedua sebelum mengunci kemenangan melalui loncatan terakhir dengan tingkat kesulitan 5,9.
“Saya melakukan loncatan terakhir itu dan merasakan kebahagiaan dan rasa lega dalam waktu yang sama. Saya bahkan sempat menitikkan air mata saat diangkat dari air dengan jet ski,” ungkapnya.
Penyelenggaraan kompetisi ekstrem tersebut juga mendapat dukungan pengamanan ketat dari TNI Angkatan Laut. Kepala Staf Angkatan Laut (KSAL), Muhammad Ali, menyebut pihaknya mengerahkan satu KRI Surabaya, dua helikopter, personel Kopaska, serta tim penyelam untuk memastikan keselamatan atlet dan seluruh pihak yang terlibat.
“Ada 1 KRI Surabaya, 2 helikopter, dan juga pasukan Kopaska dan tim penyelam yang melaksanakan pengamanan. Apabila terjadi sesuatu, helikopter standby langsung melakukan evakuasi medis. Namun alhamdulillah tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan,” ujarnya.
Selain aksi olahraga ekstrem, ajang ini juga menampilkan kekayaan budaya Bali. Berbagai unsur lokal dihadirkan mulai dari tradisi undian ala lomba 17-an, upacara matur piuning sebelum kompetisi, hingga platform loncat “Tri Loka” karya seniman lokal yang terinspirasi simbol Garuda Wisnu, Bedawang Nala, dan Naga.










