Sebagai perguruan tinggi kesehatan di bawah Kementerian Kesehatan, ia menyadari bahwa ukuran keberhasilan Poltekkes bukan hanya berapa banyak lulusan yang dihasilkan atau berapa banyak penelitian yang dipublikasikan.
Ukuran yang lebih penting adalah seberapa besar pendidikan, penelitian, dan inovasi yang kami kembangkan mampu menjawab kebutuhan sistem kesehatan dan memberikan dampak nyata kepada masyarakat.
"Karena itu, melalui ICMAHS kami ingin mempertemukan science, technology, clinical practice, education, and policy dalam satu ruang kolaborasi," sebutnya.
"Kami ingin penelitian tidak berhenti pada publikasi. Kami ingin inovasi tidak berhenti sebagai prototipe. Tetapi keduanya dapat diterjemahkan menjadi praktik berbasis bukti, peningkatan mutu pelayanan, penguatan kompetensi tenaga kesehatan, serta rekomendasi bagi pembangunan kesehatan. Inilah kontribusi yang terus ingin kami perkuat sebagai bagian dari transformasi SDM kesehatan," imbuh Erika Ichwan.
Pihaknya berharap konferensi selama 6–7 Oktober 2026 ini melahirkan jejaring baru, riset kolaboratif, inovasi, serta gagasan yang dapat memberikan kontribusi nyata bagi upaya pencegahan dan pengendalian kanker, baik di Indonesia maupun secara global.
Wakil Menteri Kesehatan (Wamenkes) RI dr. Benjamin Paulus Octavianus, Sp.P. FISR., yang hadir sebagai key note speaker sekaligus membuka ICMAHS 4, mengapresiasi langkah Poltekkes Kemenkes Denpasar yang secara konsisten memberikan kontribusinya kepada pembangunan kesehatan global. Apalagi, isu yang diangkat sangat krusial tentang keperawatan kanker.










