Sementara itu, Ibnu Yunianto selaku praktisi dan akademisi media digital menjelaskan bagaimana instrumen atau tools AI yang tersedia saat ini yang seharusnya dimanfaatkan untuk memudahkan kerja jurnalis, tidak khawatir AI mengambil alih peran manusia.
Terlebih lagi, banyak informasi yang berseliweran di media sosial belum teruji kebenarannya.
Menurut Ibnu, data saat ini menunjukkan sebagian besar jurnalis menjadikan media sosial sebagai referensi utama dalam mencari bahan berita, sementara sisanya baru mengandalkan siaran pers dan koran.
Dipaparkan, sejumlah riset menemukan banyak wartawan yang mencari informasi dari media sosial sebagai bahan artikel.
Persentasenya beragam tergantung kawasannya, ada yang 62 persen, 72 persen, bahkan 94 persen. Sedangkan sekitar 15 persen yang merujuk pada artikel di media cetak sebagai bahan awal.
Angka yang tinggi tersebut menunjukkan peran penting media sosial bagi jurnalis, sekaligus tantangan terhadap upaya verifikasi informasi.
Oleh karena itu, ia mengingatkan agar jurnalis harus pintar dan tajam dalam menganalisis informasi agar tidak ikut menjadi penyebar berita bohong (hoaks).
Menurut Ibnu, kepercayaan publik adalah taruhan tertinggi bagi media. Di tengah meluapnya hoaks dan konten media sosial yang sering dijadikan bahan berita, jurnalis tidak boleh kalah cepat dan cerdas.
"Penggunaan AI dalam verifikasi fakta ini menjadi benteng agar karya jurnalistik kita tetap presisi, akurat, dan terus menjaga trust masyarakat," kata Ibnu memungkasi. [gde]










