Selain itu, jelas pejabat asal desa Tembuku ini, pemasaran babi antar pulau saat ini juga turun drastis. Hal ini juga sangat berdampak pada jebolnya harga babi hingga ke titik nadir. Karenannya, bagi peternak yang telah memiliki babi potong yang cukup umur, langsung melakukan pemotongan dengan sistem patungan.
Sementara terkait dengan kematian babi, diakui, hingga kini masih ada saja terjadi kematian babi. Namun kematian ini, belum tentu disebabkan ASF. Karena hasil uji lab dari Propinsi juga belum keluar. Yang jelas, kata dia, untuk tingkat kematian babi sesuai yang dilaporankan dari bulan Januari hingga saat ini telah mencapai 242 ekor. “ Kematian babi baik karena ASF atau karena kematian alami, kita catat dan telah kita laporkan ke Pemrop Bali,” tegasnya.
Atas kondisi tersebut, dipastikan populasi babi di Kabupaten Bangli telah muli berkurang. Dimana sesuai laporan tahun lalu, kata Sarma, jumlah populasi di Kabupaten Bangli mencapai 59.000-an. Meski demikian untuk mencapai harga normal, lanjut Sarma, tidak bisa ditentukan dengan jumlah populasi saja. Melainkan lanjut dia, ditentukan oleh permintaan. “Jika sepanjang pengiriman bisa lancar keluar Bali, sesungguhnya dengan populasi babi yang ada saat ini harga bisa terangkat. Sebab, kita tidak bisa mengandalkan konsumsi di Pulau Bali saja,” jelasnya. Untuk itu, pihaknya tetap menghimbau masyarakat untuk jangan dulu menambah populasi babi. “Sementara yang bisa kami lakukan hanya bisa mengedukasi masyarakat, untuk menjaga kebersihan kendang, kurangi lalu lintas ternak dari luar untuk mencegah penularan ASF. Sedangkan untuk harga, sementara jangan dulu menambah populasi,” pungkasnya. (arw)










