BANGLI - sandybrown-gazelle-543782.hostingersite.com | Belakangan ini, nasib para peternak babi di Bali dan Bangli pada khususnya ibarat sudah jatuh tertimpa tangga pula. Betapa tidak, ditengah masih ganasnya serangan virus ASF yang menyerang ternak babi, kini peternak juga harus dihadapkan dengan dampak merebaknya Covid 19. Kondisi tersebut menyebabkan harga babi hidup dipasaran kian anjlok berkisar dari Rp 12 ribu hingga 16 ribu per kilo. Dampaknya, para peternak semakin kelimpungan. Terlebih harga pakan, justru masih tetap tinggi. Untuk menyiasati semakin terpuruknya harga babi, belakangan masyarakat mulai menerapkan pemotongan system “mepatung” yang bertujuan juga untuk mengurangi populasi ternak.
Hal ini diakui, Kepala Dinas Pertanian, Ketahanan Pangan dan Perikanan (PKP) Kabupaten Bangli I Wayan Sarma saat dikonfirmasi Minggu (26/4/2020). Pihaknya, tidak menampik kalau “mepatung” kini cukup marak terjadi di masyarakat. Ini salah satu upaya peternak babi di Bangli untuk mengurangi pengeluaran lebih banyak, karena sejatinya babi mereka sudah siap potong. “Peternak mengumpulkan sekitar 15 orang sampai 20 orang lebih, kemudian langsung memotong babinya,”ujar Sarma. Hal itu, terpaksa dilakukan karena belakangan harga babi hidup kian anjlok. Bahkan diakui, sesuai hasil pemantauannya, saat ini harga bibi hidup jatuh hingga Rp 12 ribu per kilo. Padahal, saat ditengah ancama ASF, khususnya sebelum Hari Raya Galungan harga babi masih bertahan dikisaran 25 ribu hingga Rp 26 ribu per kilo. “Banyak factor yang menyebabkan harga babi anjlok. Selain lantaran virus ASF, juga terdampak Covid 19. Mengingat kebutuhan babi di Bali banyak saat melakukan upacara, namun karena ditengah pandemic Covid upacara (karya ) besar banyak ditiadakan, sehingga daya serap berkurang”ucapnya.










