Selain transformasi akademik, UNMAS ke depan akan memperkuat tata kelola berbasis prinsip good corporate governance (GCG), meliputi transparansi, akuntabilitas, tanggung jawab, independensi, dan keadilan. Pihaknya juga menargetkan perluasan sinergi dan kolaborasi dengan pemerintah, dunia usaha dan industri, media, serta perguruan tinggi nasional dan internasional.
Dari sisi sumber daya manusia, Lanang menyatakan optimistis. UNMAS saat ini memiliki sekitar 433 dosen, dengan hampir 67 persen berusia di bawah 40 tahun. Kampus ini menaungi 10 fakultas dengan 30 program studi, didukung 24 guru besar serta ratusan dosen berkualifikasi doktor dan lektor kepala. Secara kelembagaan, UNMAS telah terakreditasi unggul, dengan sejumlah program studi juga meraih akreditasi unggul.
Ketua Yayasan Perguruan Rakyat Saraswati Pusat Denpasar, Tjok Istri Sri Ramaswati, S.H., M.H., menegaskan pentingnya sinergi antara rektorat dan yayasan dalam mengelola perguruan tinggi. Ia berharap kepemimpinan baru mampu menjaga kualitas tridharma, memperkuat tata kelola, serta terus berinovasi agar UNMAS semakin berdaya saing di tingkat nasional dan global.
Ia mengingatkan agar kepemimpinan baru tetap berpegang pada nilai inti yayasan, yakni kejujuran, kerja sama, kerja keras, kerja cerdas, kekeluargaan, komunikasi, dan disiplin. “Pergantian jabatan adalah hal biasa. Yang terpenting adalah bagaimana menjaga dan meningkatkan kualitas yang sudah dicapai,” tegas Rektor UNMAS periode 1997-2014 tersebut.
Dengan visi menjadikan UNMAS sebagai universitas bermutu dan berdaya saing internasional, Lanang Perbawa optimistis kampus swasta terbesar di Bali itu mampu memperkuat posisi melalui inovasi, kolaborasi, dan peningkatan kualitas lulusan. “Kami ingin Unmas tidak hanya unggul di Bali, tetapi juga memberi dampak nasional dan internasional,” ugkap Tjok Ramaswati.










