DENPASAR-fajarbali.com | Permasalahan sampah di Bali menjadi isu penting yang membutuhkan komitmen dan tata kelola terintegrasi dari hulu hingga hilir.
Menjawab tantangan tersebut, PT Bali Recycle Center (BRC) terus memperkuat usaha pengelolaan sampah melalui pengembangan bisnis, perluasan jaringan kemitraan, serta peningkatan kapasitas sebagai bagian dari upaya mewujudkan Bali yang bersih dan lestari.
Direktur Utama PT BRC, Ni Wayan Riawati, mengungkapkan, langkah ini berawal dari gerakan sosial yang dijalankan Yayasan Bali Wastu Lestari bekerja sama dengan Unilever Indonesia sejak 2011.
Melalui program bank sampah, yayasan tersebut mendorong pengelolaan sampah berbasis sumber dengan memberikan layanan sosialisasi, edukasi, pendampingan pemberdayaan masyarakat, pengumpulan sampah, hingga pemasaran material daur ulang.
Namun, gerakan sosial dinilai belum cukup untuk menjamin keberlanjutan usaha pengelolaan sampah. Diperlukan penguatan legalitas kelembagaan, pembangunan budaya 3R (reduce, reuse, recycle), dukungan regulasi dan pembiayaan, penerapan teknologi tepat guna, serta jaringan pemasaran yang berkelanjutan.
“Pada akhir 2024, PT Bali Recycle Center resmi dibentuk untuk memperkuat pengelolaan Bank Sampah Induk Bali Wastu Lestari,” ujar Ni Wayan Riawati di sela-sela Exhibition Day & Networking Luncheon BRC yang berlangsung di Aston Hotel & Convention Center, Jumat (16/10/2026).
Memasuki awal 2025, BRC mengikuti program akselerasi dan lolos seleksi dalam proyek Scaling Up Local Enterprise on Waste Management in Indonesia (SULE-WM). Program tersebut diinisiasi oleh Unilever Indonesia dan GIZ, berkolaborasi dengan Kementerian Lingkungan Hidup Republik Indonesia, serta didampingi Ecoxyztem.









