“GEMAR” dalam “GATI” dan Cerita Anak yang Tak Selalu Didampingi Ayah

u10-IMG-20251225-WA0000
Gerakan Ayah Mengambil Rapor Anak ke Sekolah (GEMAR). (foto/ist). 

"Anak tidak membutuhkan keluarga yang sempurna, melainkan keluarga yang jujur dan aman secara emosional," paparnya.

Menghindari atau menyangkal realitas justru dapat membuat anak merasa bingung dan tidak dimengerti. Dalam situasi tersebut, peran ibu—terutama ibu tunggal atau ibu yang menjalani LDR—menjadi sangat penting. Ibu tidak hanya hadir secara fisik, tetapi juga berperan besar dalam membangun rasa aman dan percaya diri anak. 

Penjelasan yang sederhana, jujur, dan penuh kasih membantu anak memahami bahwa kondisi keluarganya bukan sebuah kekurangan. Kalimat seperti, “Kita tetap lengkap, karena kita saling sayang. Hari ini Ibu yang antar sekolah, ya,” dapat memberi ketenangan dan rasa diterima.

Ketika kondisi keluarga tidak memungkinkan ayah hadir secara fisik, esensi keteladanan tetap dapat dijaga melalui komunikasi yang jujur, dukungan emosional yang konsisten, dan lingkungan keluarga yang saling menguatkan.

Dalam hal ini, GATI dan GEMAR tidak dimaksudkan sebagai standar tunggal atau alat penghakiman, melainkan sebagai ajakan reflektif dan inspiratif.

Pada akhirnya, setiap keluarga memiliki cerita dan bentuknya masing-masing. Anak dapat tumbuh sehat dan percaya diri dalam berbagai situasi, selama ia merasa dicintai, didengar, dan didampingi.

Karena yang paling dibutuhkan anak bukanlah keluarga yang terlihat sempurna, melainkan kehadiran orang tua—ayah, ibu, atau keduanya—yang sungguh-sungguh memahami, menguatkan, dan berjalan bersama anak dalam proses tumbuh kembangnya. Penulis: Ari Listiani

BERITA TERKINI

TERPOPULER

Scroll to Top