Melalui kehadiran ayah dalam upacara adat, kegiatan gotong royong, serta tanggung jawab sosial di komunitas, anak belajar secara konkret tentang makna komitmen, tanggung jawab, dan disiplin.
Nilai-nilai ini tidak diajarkan lewat nasihat semata, melainkan melalui contoh nyata yang dilihat dan dialami anak sejak dini melalui kegiatan-kegiatan adat dan keagamaan yang kental dalam masyarakat Bali.
Dalam proses tersebut, ayah menjadi jembatan yang mengenalkan anak pada peran dan identitasnya sebagai bagian dari keluarga sekaligus anggota masyarakat.
Pemahaman inilah yang sejatinya sejalan dengan semangat GATI. GATI menempatkan ayah bukan hanya sebagai simbol otoritas atau pencari nafkah, tetapi sebagai panutan yang hadir, terlibat, dan berperan aktif dalam pembentukan karakter anak.
Dengan demikian, penguatan peran ayah melalui GATI bukanlah upaya mengubah nilai lokal, melainkan menghidupkan kembali kearifan yang telah lama tumbuh dalam budaya Bali: ayah sebagai teladan yang membimbing dengan keteladanan, bukan dengan jarak.
Respon Masyarakat
Namun, di tengah upaya tersebut, muncul pula respons kritis dari masyarakat. Tidak semua anak memiliki kesempatan didampingi ayah.
Ada anak yang tumbuh bersama ibu tunggal, ada yang orang tuanya menjalani hubungan jarak jauh (LDR), dan ada pula yang kehilangan sosok ayah. Kekhawatiran pun muncul bahwa kampanye GEMAR dapat mengingatkan anak pada ketidakhadiran ayah dan berpotensi melukai perasaan mereka.
Menanggapi hal ini, psikolog klinis Hari Imam Wahyudi, S.Psi, dari Lembaga Psikologi & Hipnoterapi Dian Selaras, menekankan bahwa kunci utama terletak pada cara orang tua yang ada mendampingi dan menjelaskan kondisi keluarga kepada anak.










