Lebih lanjut Reza menyebutkan, dalam jangka panjang, model ini diarahkan untuk mengusung konsep living landscape economy. "Melalui konsep ini, konsumen tidak hanya membeli kopi berdasarkan rasa atau asal daerahnya, tetapi juga diajak memahami cerita konservasi di baliknya, bagaimana biodiversitas dijaga, karbon diukur, serta sejauh mana manfaat ekonomi kembali kepada masyarakat yang merawatnya," terangnya.
Eksekusi yang kuat di tingkat tapak menjadi kunci utama kredibilitas ekonomi karbon di Indonesia. Ketika perempuan, teknologi, dan lanskap kopi bekerja dalam satu ekosistem yang terintegrasi, kebun kopi bertransformasi menjadi laboratorium hidup bagi pengembangan ekonomi iklim yang inklusif, adil, dan berkelanjutan. (M-001)










