Reza menekankan bahwa potensi kopi arabika di dataran tinggi Kintamani, khususnya di Desa Catur, merupakan salah satu yang terbaik di dunia. Hal ini menjadikannya sangat layak dikembangkan menjadi agroekosistem dan lokasi penyerapan karbon ramah lingkungan yang ideal sebagai percontohan masa depan.
Pemberdayaan Perempuan dalam Pengukuran Karbon Berbasis Komunitas
Dalam ekosistem terpadu ini, perempuan petani kopi ditempatkan sebagai aktor kunci melalui program pemberdayaan Coop Coffee Foundation. Program ini menolak menempatkan perempuan hanya sebagai penerima manfaat pasif, melainkan mendorong mereka masuk ke ranah teknis yang selama ini jarang melibatkan peran perempuan. Salah satu fokus utamanya adalah keterlibatan langsung dalam proses Measurement, Reporting, and Verification (MRV).
Reza menegaskan, keterlibatan tersebut dimulai dari langkah-langkah mendasar, seperti memahami parameter pengukuran kebun, mencatat kondisi lahan, hingga mengumpulkan data melalui perangkat digital. "Langkah ini mengubah peran perempuan dari sekadar sumber informasi menjadi bagian aktif dalam pembuktian dampak lingkungan. Data yang terkumpul kemudian menjadi alat bantu bagi petani untuk memahami perkembangan kondisi tanah dan produktivitas mereka secara mandiri," jelasnya.
Reza mengatakan bahwa, penerapan teknologi digital di tingkat tapak diposisikan sebagai jembatan informasi yang disederhanakan agar mudah dipahami oleh masyarakat lokal. Sebaliknya, kearifan lokal serta pengalaman lapangan para petani dijadikan masukan penting untuk memberikan konteks nyata pada data yang terintegrasi di dalam sistem digital.










