Angka kematian ibu di sejumlah negara di kawasan ini masih tergolong cukup tinggi berkisar rata-rata 140 s.d 155 kematian ibu per 100.000 kelahiran hidup. Sebagian besar kasus tersebut dipengaruhi jarak kelahiran yang terlalu dekat serta keterbatasan akses terhadap layanan kesehatan reproduksi yang berkualitas dan merata.
Kondisi ini membawa dampak serius, tidak hanya bagi kesehatan para remaja, tetapi juga bagi kelanjutan pendidikan serta masa depan ekonomi mereka,” tambahnya.
Sementara itu, hadir juga UNFPA Indonesia Representative Hassan Mohtashami, yang berkomitmen untuk mempercepat kemajuan menuju Tiga Hasil Transformasi yang tujuan akhirnya pada tahun 2030, yaitu _zero unmet need; zero unmet need for family planning; zero preventable maternal deaths; and zero gender-based violence and harmful practices_.
"UNFPA menyediakan dukungan teknis dan panduan berbasis bukti untuk memastikan bahwa semua upaya keluarga berencana mematuhi prinsip-prinsip hak asasi manusia: non-diskriminasi, persetujuan berdasarkan informasi, _availability, accessibility, acceptability, and quality (AAAQ)_ ," ucap Hassan.
Dalam kesempatan ini, Hassan juga menyampaikan bahwa UNFPA juga bangga dapat memfasilitasi kepemimpinan Indonesia dalam Kerja Sama Selatan-Selatan dan Triangular (SSTC). Indonesia memberikan pembelajaran berharga bagi negara-negara lain dalam upaya memperluas akses terhadap layanan Keluarga Berencana (KB).
Dihadiri 14 Negara
Pertemuan FP2030 dihadiri para pemimpin, mitra, dan advokat regional yang memiliki visi bersama dalam memajukan Keluarga Berencana (KB), kesehatan reproduksi, dan kesetaraan gender di seluruh kawasan Asia-Pasifik bersama dengan FP2030 Asia-Pasifik, UNFPA Indonesia, dan Kementerian Sekretariat Negara Indonesia.










