Setelah gelar sarjana pendidikan seni karawitan dalam genggaman, Saras bercita-cita menjadi guru kesenian. Ia sudah menaruh lamaran di sejumlah sekolah [SMP].
Selama menjadi mahasiswa, Saras aktif "megambel" hingga menjadi pembina seka gong di berbagai daerah, terutama wilayah Tabanan.
Saras menjadi sosok kunci di balik kesuksesan Seka Baleganjur Banjar Bukit Catu, Desa Candikuning, Kecamatan Baturiti, Tabanan, meraih juara 3 pada ajang Ulun Danu Fest tahun lalu. Dengan kerja keras, membelah kabut Bedudul, Saras berhasil membina seka gong tersebut sampai mengukir prestasi.
Kemahiran Saras dalam memainkan instrumen gamelan dikonfirmasi langsung oleh salah satu dosennya, I Kadek Suryantara Asmara Putra, M.Sn. Saras diakui bisa memainkan semua instrumen gamelan.
"Saya sering mengajak dia dalam pementasan sebagai pengiring. Main apa saja bisa dia. Semangatnya luar biasa," ujar Suryantara. Kecintaan Saras terhadap seni gamelan sudah muncul sejak kecil. Saras mulai mengasah skill akademiknya dengan menempuh pendidikan di SMKN 5 Denpasar.
Senada, Eka juga menceritakan perjuangan penuh liku menuntaskan pendidikan tinggi pada Prodi Pendidikan Agama Hindu. Setiap hari, Eka bolak-balik mengendarai sepeda motor roda tiga dari rumahnya di Abiansemal ke Kampus Unhi.
Keberhasilan ini, kata Eka, tidak lepas dari support keluarga, teman kuliah serta dosen. Selama berkuliah di Unhi, Eka mengaku tidak mendapatkan perlakuan tidak nyaman seperti perundungan.
Malah, teman dan dosen mensupport penuh langkahnya menggapai cita-cita.
Eka juga menggantungkan harapan menjadi guru setelah lulus kuliah.










