"Kita sangat terbuka untuk berkolaborasi. Kalau ada dari teman-teman dan masyarakat yang mempunyai visi-misi yang luhur juga untuk teh, ingin jadi pengurus atau memperluas komunitas teh, tentu ini sangat senang sekali kita," ungkap Christina.
Ia menambahkan, lewat peluncuran KITA Championship, komunitas pecinta teh di Indonesia diproyeksikan akan terus tumbuh dan berkembang secara positif. Rangkaian kompetisi ini juga direncanakan akan menyambangi berbagai kota besar lain di Indonesia guna memperluas ekosistem penikmat teh secara berkelanjutan.
Sambutan positif turut datang dari Kementerian Perindustrian Republik Indonesia. Direktur Mintemgar Kemenperin, Merrijantij Punguan P, menilai bahwa inisiatif nasional semacam ini sangat efektif dalam memperluas minat masyarakat, khususnya kalangan generasi muda, untuk melirik industri teh artisan.
Berdasarkan data global, Indonesia tercatat sebagai produsen olahan teh terbesar kedelapan di dunia dengan total produksi mencapai 105.273 ton dari luas lahan perkebunan sekitar 97.500 hektare. Potensi besar ini dinilai semakin kuat dengan adanya ruang kolaborasi lintas sektor yang dihadirkan dalam rangkaian acara KRISTAInterFOOD 2026.
Rangkaian KITA Championship pun semakin semarak dengan digelarnya Tea Talkshow yang membedah tuntas strategi kolaborasi, inovasi, hilirisasi, hingga kreativitas bisnis teh artisan. Diskusi panel yang dipandu oleh Sekretaris Jenderal ARTI, Mei P. Chandra, ini menghadirkan para praktisi lintas industri terkemuka, mulai dari spesialis teh artisan Shane dari Teashane, Ketua Umum Dewan Teh Indonesia sekaligus perwakilan Sila Tea House Iriana Ekasari, praktisi kopi Harianto dari Homer Roastery/Disclosure Coffee, hingga pakar mixology Nicky Assa dari Jakarta Bartender Club/Wilford's. (M-001)









