Sebagai langkah konkret mengatasi hal tersebut, ARTI gencar mengedukasi masyarakat melalui berbagai lokakarya dan kegiatan promosi interaktif selama pameran. Edukasi ini dinilai krusial guna meruntuhkan stigma negatif yang telanjur melekat di tengah masyarakat bahwa teh lokal identik dengan komoditas murah meriah tanpa keistimewaan.
Redha menegaskan bahwa peningkatan pengalaman menikmati teh (tea experience) serta inovasi produk secara konsisten diyakini mampu mendongkrak nilai jual secara signifikan. Peningkatan nilai ekonomi pada komoditas teh ini tidak hanya berdampak pada pelaku usaha di sektor hilir, tetapi juga membawa angin segar bagi kesejahteraan para petani di hulu.
Di sisi lain, perkebunan teh nasional saat ini masih dihadapkan pada berbagai tantangan serius, termasuk fenomena alih fungsi lahan yang menggerus luas area perkebunan secara drastis. Dengan terciptanya nilai ekonomi yang lebih tinggi, ARTI berharap keberlangsungan perkebunan teh dapat terus terjaga demi kelestarian lingkungan dan kesejahteraan petani sebagai garda terdepan pemasok bahan baku.
Dari segi keragaman, Redha memaparkan bahwa teh memiliki spektrum jenis yang sangat luas akibat perbedaan proses pengolahan, mulai dari teh hitam, hijau, putih, kuning, hingga merah. Karakteristik wilayah perkebunan yang unik juga melahirkan cita rasa khas tersendiri atau yang dikenal dengan istilah single origin.
Senada dengan hal tersebut, Chief Marketing Officer, Christina Sudjie, berpendapat bahwa industri teh tanah air sudah sepatutnya mendapatkan momentum emas untuk "naik kasta". Mengikuti jejak sukses industri kopi nasional yang berhasil memikat hati masyarakat luas, teh juga diharapkan mampu menjadi kebanggaan baru kebudayaan kuliner Indonesia.









