Distributor AMDK di Bali Minta Gubernur Kaji Ulang SE 9/2025 

IMG-20250604-WA0001
(ilustrasi)-air minum dalam kemasan (AMDK) 220 ml.

Karenanya, dia juga mempertanyakan hasil survey yang dilakukan Sungai Watch yang menyebutkan banyak menemukan sampah dari botol-botol dan gelas plastik sekali pakai yang mengotori lingkungan di Bali.

“Saya bingung juga di mana dilakukan penelitian itu. Karena, saya juga jarang menemukan sampah dari gelas dan botol air minum di jalan-jalan dan pasar-pasar,” tegasnya.

Menurutnya terjadinya penumpukan sampah di TPA di Bali itu disebabkan tidak adanya pengolahan sampahnya.

“Kalau semua kabupaten di Bali ini masing-masing memiliki pabrik pengolahan sampah, pasti permasalahan sampah bisa diatasi. Karena, kalau sampahkan terus ditumpuk di TPA dan tidak diolah, lama-lama kan sampahnya akan menggunung," ujarnya.

Jadi, sambung dia, bukan karena sampah-sampah dari gelas dan botol minuman. "Pihak pemerintah Bali juga tidak boleh tinggal diam dong, tapi harusnya mereka menyediakan pabrik pengolahan sampah. Karena problemnya bukan hanya di masalah plastik tapi juga sampah-sampah organik,” imbuhnya.

Dia mengutarakan bahwa air minum kemasan Cleo di Bali lebih banyak digunakan di rumah sakit-rumah sakit.

“Kita termasuk pemain nomor dua untuk penggunaan di rumah sakit- rumah sakit di Bali,” ungkapnya.

Keluhan yang sama juga disampaikan distributor air minum kemasan Amidis. Pemilik Toko Animax, salah satu distributor air minum kemasan Amidis di Denpasar Bali, Herry Irawan, mengatakan tidak setuju dengan kebijakan Gubernur Koster yang melarang penjualan air minum kemasan di bawah satu liter.

“Kebijakan itu jelas sangat mengganggu kita para distributor air minum kemasan. Bagi saya sendiri, kebijakan itu bisa mengurangi penjualan sebesar 50 persennya,” ungkapnya.

BERITA TERKINI

TERPOPULER

Scroll to Top