“Ibu Diah Werdhi Srikandi politisi PDIP dan Ibu Putu Sawitri dari Golkar menyebutkan, bahwa kini politik itu bukan lagi keras namun buas bagi perempuan,” ungkap Riniti.
Simbol ketegaran seorang perempuan bisa diambil dari Yoke. Perempuan dengan HIV/AIDS itu tetap tegar beraktivitas dan berusaha ‘speak-up’ sebagai ibu tunggal.
Cerita yang bikin dahi mengkerut datang dari Dian. Perempuan pecinta binatang itu melakukan hal baik dengan memberi makan anjing-anjing liar. Namun Dian mengalami kekerasan oleh masyarakat sekitar atas nama agama. “Duh... Sampai 'ngejer" Mbak Dian bercerita saat diadili massa,” ungkapnya.
Sementara, Prof. Agung Ari Atu Dewi, pakar hukum adat dari Fakultas Hukum, Universitas Udayana, memyebutkan, bahwa setengah dari jumlah masyarakat adat adalah perempuan, dan mereka mengalami kekerasan secara berlapis.
“Satu lidi tak kan bisa membersihkan lantai kotor, namun seikat lidi bisa menyapu ketidak adilan bagi perempuan. Mari kita bergandeng tangan dalam memperjuangkan keadilan dan kesetaraan bagi perempuan,” pungkas Riniti.










