"Kami yang berada di daerah, khususnya di Bali yang hidup dalam harmoni multikultural, melihat Prof. Nasaruddin Umar adalah jawaban yang tepat untuk PBNU. Beliau bukan hanya ulama yang matang secara intelektual, tetapi juga tokoh inklusif yang bisa diterima oleh semua kelompok dan perbedaan yang berkembang,” ujar Mahrusun yang juga menjabat Ketua MUI Provinsi Bali ini, Ketika diminta komentar di Denpasar, Selasa (7/7/2026).
Komitmen Tata Kelola dan Khidmah Profesional
Selain figur kepemimpinan, arus utama yang dibahas menjelang muktamar ini adalah urgensi penguatan tata kelola organisasi.
Kepengurusan PBNU ke depan dinilai perlu mengalami pembenahan sistemik, di mana pengisian jabatan harus didasarkan pada kompetensi, profesionalisme, dan kesiapan berkhidmah yang nyata.
Faktor-faktor subjektif seperti garis keturunan, asal daerah, popularitas instan, maupun kedekatan politik dalam kontestasi internal harus dikesampingkan. Dengan tata kelola yang profesional, NU diyakini mampu beradaptasi dengan modernitas tanpa kehilangan jati diri dan nilai-nilai tradisi pesantren yang melahirkannya.
Empat Agenda Prioritas NU Masa Depan
Berdasarkan aspirasi yang berkembang dari berbagai diskusi menjelang muktamar, terdapat empat sektor mendesak yang harus menjadi fokus perjuangan PBNU ke depan:
• Pendidikan: Penguatan kelembagaan pesantren, sekolah, dan perguruan tinggi NU agar mampu melahirkan SDM unggul yang siap berkontribusi dalam pembangunan nasional.
• Kesehatan: Perluasan akses layanan kesehatan bagi warga Nahdliyin secara nyata melalui akselerasi dan pembenahan klinik serta rumah sakit di bawah naungan NU.










