Data dalam platform tersebut, lanjut Surya Bharata, akan terus diperbarui secara berkala sehingga masyarakat dapat memperoleh informasi yang akurat mengenai sebaran satuan pendidikan kesetaraan, layanan yang tersedia, hingga proses pendaftaran.
Selain itu, Disdikpora Kabupaten Buleleng akan terus melakukan sosialisasi bersama Dinas Komunikasi, Informatika, Persandian dan Statistik, pemerintah desa, serta berbagai lembaga terkait agar masyarakat semakin mengenal dan memanfaatkan platform tersebut.
“Kami berharap seluruh stakeholder terus berkolaborasi sehingga masyarakat yang belum menuntaskan pendidikan dapat segera terlayani melalui pendidikan kesetaraan,” ujarnya.
Dalam kesempatan itu, Surya Bharata juga memperkenalkan SPAT SIKU (Sistem Penanganan Anak Tidak Sekolah Secara Inklusif Menuju Buleleng Bebas ATS), sebuah penanganan ATS yang mengintegrasikan enam sistem layanan, termasuk JOSS Buleleng.
Ia mengungkapkan, berdasarkan data yang dimiliki Disdikpora, jumlah anak tidak sekolah di Kabupaten Buleleng saat ini mencapai sekitar 8.077 anak. Seluruh anak tersebut akan diidentifikasi sesuai kondisi riil di lapangan agar mendapatkan penanganan dan layanan pendidikan yang tepat.
Diharapkan penanganan anak tidak sekolah dapat dilakukan secara bertahap dan menyeluruh, sehingga berdampak pada meningkatnya angka partisipasi sekolah, rata-rata lama sekolah, hingga Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Kabupaten Buleleng.
“Dengan hadirnya JOSS Buleleng, Pemerintah Kabupaten Buleleng menegaskan komitmennya membangun layanan pendidikan yang inklusif, merata, dan transparan berbasis teknologi, sekaligus memperkuat kolaborasi lintas sektor dalam mewujudkan Buleleng Bebas Anak Tidak Sekolah,”tutupnya. @gus










