Gizi dan imunisasi adalah dua sisi mata uang yang tidak bisa dipisahkan. Berdasarkan data WHO (Badan Kesehatan Dunia) tahun 2023, terdapat 14,5 juta anak di dunia yang tidak menerima vaksin sama sekali—dikenal sebagai zero-dose children—dan Indonesia menempati peringkat keenam tertinggi secara global.
Rendahnya imunisasi membuat anak lebih mudah terserang penyakit seperti campak, diare, atau pneumonia—tiga penyakit yang terbukti memperburuk status gizi dan mempertinggi risiko wasting serta stunting.
UNICEF juga menyoroti bahwa tantangan gizi dipengaruhi ketimpangan sosial dan ekonomi. Selain asupan makanan, pengasuhan yang responsif—meliputi stimulasi, perhatian emosional, interaksi positif, dan kebiasaan makan yang benar—memainkan peran sangat penting dalam perkembangan anak. Tanpa kombinasi keduanya, risiko gangguan tumbuh kembang akan tetap tinggi meskipun intervensi gizi telah diberikan.
Peran MBG 3B: Memenuhi Gizi Sejak Dini untuk Anak Non-PAUD
Untuk menjawab tantangan akses gizi, Indonesia di bawah pemerintahan Presiden Prabowo telah melaksanakan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) untuk anak sekolah dan sasaran 3B (Makan Bergizi Gratis untuk Bumil, Busui, dan Balita Non-PAUD).
Program ini menyediakan makanan bergizi yang kaya protein, vitamin, dan mineral bagi kelompok yang paling rentan dan membutuhkan asupan berkualitas, terutama pada periode emas 1.000 HPK.
MBG 3B juga menjangkau balita non-PAUD, yaitu anak-anak yang sering luput dari jangkauan layanan resmi karena belum masuk lembaga pendidikan. Dengan memastikan anak mendapatkan asupan harian yang cukup, MBG 3B berperan langsung dalam penurunan stunting dan pencegahan wasting.










