Terkait Air Mandiri Desa ini, awalnya dibuat menggunakan tenaga kincir dengan memanfaatkan sumber mata air tepi Tukad Pakerisan dan Tukad Petanu. "Namun dengan cara manual itu, ketika ada pwmeriksaan dari Puskesmas Tampaksiring ternyata ada bakteri e-coli. Terutama jika habis musim hujan, jadi tidak cukup efisien. Dan waktu itu hanya cukup melayani 200 KK," jelasnya.
Akhirnya, pihaknya melakukan studi ke beberapa sistem pengolahan air. "Paling hygienis, sumur bor. Sekarang kita punya 7 sumur bor. Punya gardu sendiri," jelasnya. Desa Pejeng pun diuntungkan secara letak geografis, yang diapit dua sungai besar yakni Petanu dan Pakerisan. Sehingga potensi air bawah tanah di Desa Pejeng cukup melimpah untuk memenuhi kebutuhan masyarakat desa. "Diasumsikan sejajar dengan rembesan Danau Batur," jelasnya. Secara operasional, air naik menggunakan sistem otomatis. Kapasitas bak penampung hingga penuh, katanya bisa terisi sampai 80 ton. "Pipa distribusi kita 3 dim," jelas Perbekel yang juga Ketua LPD Desa Adat Jro Kuta, Pejeng ini. Pada awal pembuatan, air mandiri desa ini dikelola oleh Badan Usaha Desa Adat dibawah naungan LPD setempat. Setelah berjalan, disinergikan dengan Desa Pejeng.(gds).










