Desa Panji Nihil Stunting Berkat Program dan Keharmonisan Keluarga

Panji

"Pencegahan stunting ditandai dengan lima pilar. Dan, diperlukan konvergensi untuk menjalankan percepatan penurunan stunting," kata Sucipto.

Kepala Perwakilan Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Bali Sarles Brabar, mengaku bangga karena pemerintah desa (Panji) sudah membantu mempercepat penurunan stunting sehingga tidak ada kasus stunting.

"Jargon BKKBN saat ini bukan lagi dua anak cukup. Tetapi mementingkan kualitas anak dengan menghindari 4 T; terlalu tua, terlalu muda, terlalu banyak, dan terlalu dekat jarak melahirkan," ungkap Sarles.

Stunting, lanjut Sarles, pengaruhnya sangat besar di kemudian hari utamanya kepada kualitas pengembangan anak. Hal ini dapat dihindari dengan pemenuhan gizi dengan menggunakan bahan makanan lokal.

Anggota DPRD Buleleng dari Fraksi PDI Perjuangan Putu Mangku Budiasa menambahkan, program ini merupakan program yang sangat bermanfaat khususnya bagi masyarakat Desa Panji. Tokoh masyarakat ini, meminta masyarakat menyimak dan melaksanakan papara narasumber untuk hidup yang lebih baik.

Narasumber terakhir, Anggota Komisi IX DPR RI I Ketut Kariyasa Adnyana, menambahkan, kegiatan ini merupakan kemitraan dengan BKKBN. Komisi IX, kata dia bermitra dengan Kementerian Kesehatan, BP POM, Kementerian Ketenagakerjaan dan kementerian/badan lain yang berurusan langsung dengan kebutuhan dasar masyarakat.

Kariyasa kembali berpesan agar calon pengantin menghindari perkawinan usia dini. Idealnya 21 tahun untuk perempuan dan 25 tahun untuk pria.

"Karena berdasarkan penelitian, stunting didominasi dari orangtua yang kawin di bawah umur," pungkasnya sembari memberikan door prize menarik bagi peserta yang bisa menjawab pertanyaan. Total kegiatan ini melibatkan lebih dari 400 warga setempat. rl

BERITA TERKINI

TERPOPULER

Scroll to Top