Dampak Corona, Buah Lokal Semakin Diminati Masyarakat

 

Di sisi lain, keberadaan buah lokal musiman juga meningkat dengan harga yang relatif jauh lebih terjangkau meski mengalami kenaikan harga. Seperti halnya wani yang semula Rp20.000 per kilogram jelang Galungan lalu naik menjadi Rp25.000 per kilogram, manggis dari Rp25.000 per kilogram menjadi Rp30.000 per kilogram, anggur hitam dari Rp18.000 per kilogram menjadi Rp23.000 per kilogram dan buah naga dari Rp10.000 menjadi Rp15.000 per kilogram.

 

Menanggapi hal tersebut, Kepala Bidang (Kabid) Produksi, Dinas Pertanian Provinsi Bali I Wayan Sunartha mengatakan, kejadian ini memberikan angin segar bagi petani yang mendapatkan harga bagus saat musim panen buah lokal. “Tidak lagi terjadi salak dijual Rp1.000 per kilogram, sekarang sudah Rp10.000 per kilogram kan bagus. Harga yang didapatkan petani saat ini sesuai, tidak ada harga anjlok,” terangnya, Selasa (25/2).

 

Dikatakannya, jika harga hasil produk pertanian bagus, gairah masyarakat untuk bertani dan menghasilkan produk berkualitas juga tinggi. "Disini pasar yang sebenarnya mampu mengendalikan produksi pada petani. Jika harga di pasaran bagus, maka petani mau untuk memproduksi lebih banyak dengan kualitas yang lebih baik bahkan melalui proses sortir sebelum sampai ke pasar," jelas Sunartha. 

 

Dengan demikian, kata Sunarta, untuk terus meningkatkan produksi buah lokal, maka paling utama yang harus dilakukan yaitu meningkatkan militansi masyarakat Bali untuk mengkonsumsi buah lokal. “Buah impor akan dengan mudah dikendalikan ataupun ditekan kedatangannya, jika masyarakat lebih memilih mengkonsumsi buah lokal. Pedagang di pasar selalu menjual apa yang dibutuhkan dan dicari masyarakat. Jadi jika pilihan masyarakat lebih ke buah lokal, secara otomatis permintaan buah impor berkurang,” ujarnya. (dha)

BERITA TERKINI

TERPOPULER

Scroll to Top