Coop Coffee Foundation Dorong Literasi Karbon Inklusif Bagi Perempuan Petani di Desa Catur

2026-08-24-at-23.34.41
Perempuan petani kopi Desa Catur dibekali pemahaman pentingnya fungsi penyerapan emisi sekaligus teknis perhitungan karbon secara manual langsung dari lahan sendiri. (FB/Dartha)

BANGLI-fajarbali.com | Nilai Ekonomi Karbon (NEK) yang selama ini dipersepsikan sebagai isu lingkungan global yang jauh dari ranah akar rumput, kini mulai menyentuh kehidupan para petani di lereng Kintamani. Di Desa Catur, Kabupaten Bangli, karbon diubah menjadi bagian integral dari nilai yang tersimpan di dalam kebun kopi warga melalui rangkaian pendampingan berkelanjutan.

Program edukasi bertajuk “COFFEE CARBON, THE HIDDEN VALUE” yang diinisiasi oleh Coop Coffee Foundation menjadi tonggak penting dalam mengenalkan konsep NEK kepada para perempuan petani kopi. Pelatihan ini melatih warga memahami pentingnya fungsi penyerapan emisi sekaligus teknis perhitungan karbon secara manual langsung dari lahan mereka.

Langkah ini merupakan keberlanjutan dari edukasi potensi karbon desa yang telah dimulai sejak tahun 2023. Pada pendampingan teknis tanggal 21 Agustus 2026, Coop Coffee Foundation memfokuskan kegiatannya pada kesiapan petani pemegang hak hutan kopi sebagai pelaku usaha perdagangan karbon.

Langkah strategis tersebut menindaklanjuti arahan dari Direktorat Jenderal Perhutanan Sosial Kementerian Kehutanan dalam audiensi terbuka yang berlangsung pada Senin, 27 Juli 2026. Pertemuan tersebut mempertegas pemenuhan persyaratan administratif dan teknis guna memastikan tata kelola karbon yang berstandar.

Kegiatan pendampingan ini menghadirkan tutor mumpuni di bidang NEK serta melibatkan pemangku kepentingan lintas sektor secara hibrida. Hadir di lokasi Kepala Desa Catur dan Ketua Tim Penggerak PKK Desa Catur, serta didukung kehadiran jajaran Kementerian Koordinator Bidang Pangan, Kementerian Kehutanan, Kementerian Lingkungan Hidup, dan Kementerian Koperasi secara daring.

Program Manager Blended Finance Scheme Coop Coffee Foundation, Sascha Poespo, menyampaikan bahwa vegetasi agroforestri kopi memegang peran ganda. Pohon penaung dan tanaman kopi bukan hanya penopang produksi dan ekosistem lokal, melainkan juga unit penyerap dan penyimpan karbon dioksida di alam.

BACA JUGA:  Percepat Pembangunan The Mandalika, Paket I dan II Mutip Masuki Tahap Konstruksi, Item Pekerjaan Paket I yang Mulai Dikerjakan yaitu Pembangunan Jalan Sepanjang 4,35 km serta Lot Parkir Kendaraan Seluas 104,72 are

Melalui pendekatan pengukuran manual yang praktis, petani kini dilatih mendata potensi penyerapan tersebut berdasarkan kondisi faktual di lapangan. Langkah ini dipandang mendasar agar tata kelola karbon yang terbangun di tingkat tapak bersifat transparan, terukur, dan dapat dipertanggungjawabkan (measurable and verifiable).

Sascha menekankan peran krusial kaum perempuan yang berada di garis depan pengelolaan kebun dan pengambilan keputusan keluarga. Menurutnya, literasi karbon tidak boleh berhenti pada lembaga pendamping semata, melainkan harus dikuasai oleh perempuan yang berinteraksi langsung dengan ekosistem pertanian saban hari.

“Karbon bukan sesuatu yang jauh dari petani. Karbon ada di kebun mereka, di pohon yang mereka tanam, di tanah yang mereka jaga, dan di sistem agroforestri yang mereka rawat. Kami ingin perempuan petani bukan hanya menjadi penjaga kebun, tetapi juga menjadi penjaga nilai,” tegas Sascha.

Sascha menambahkan bahwa edukasi teknis pengukuran wajib mendahului tahap perdagangan karbon agar posisi tawar petani menguat dalam rantai nilai global. Model pertanian kopi Kintamani diharapkan mampu menghasilkan komoditas berkualitas tinggi sekaligus nilai ekologis yang terekam secara ilmiah.

Dari sudut pandang pasar, Founder Heal Bumi, Gilar Prakoso, menjelaskan mekanisme perhitungan perdagangan kredit karbon di mana 1 ton Karbon Dioksida (CO2e) yang terserap setara dengan 1 kredit karbon. Volume kredit tersebut sangat bergantung pada luas lahan serta penerapan praktik pertanian regeneratif dan agroforestri oleh petani.

Gilar menguraikan alur transaksi yang dimulai dari pemeliharaan hutan oleh masyarakat, verifikasi data oleh pihak ketiga sesuai standar internasional, hingga penerbitan kredit karbon dalam sistem registri sebelum dibeli oleh korporasi penyumbang emisi. Manfaat finansial dari mekanisme tersebut nantinya akan kembali mendukung keberlanjutan komunitas petani.

BACA JUGA:  Untuk Masyarakat Terdampak PPKM Buleleng Segera Realisasikan Bansos

“Nilai karbon kredit di bursa dalam negeri mencapai Rp24.000 per 1 ton, dan untuk satu hektar area hijau mampu menyerap 3 hingga 5 ton CO2e. Kawasan Kintamani memiliki potensi agroforestri hingga 24.000 hektar, meski saat ini yang baru siap dikembangkan untuk perdagangan sekitar 600 hektar,” terang Gilar.

Keunikan Kintamani dibanding wilayah percontohan lain di Indonesia terletak pada peran aktif kelompok perempuan dalam merawat kebun kopi berwawasan lingkungan. Salah satu kelompok yang menjadi pelopor gerakan ini adalah Kelompok Tani Arabika Catur, Subak Abian Lalang, Banjar Catur.

Ketua Tim Penggerak PKK Desa Catur, Ana Setyowati, mengakui bahwa pada awalnya konsep perdagangan karbon terasa asing dan rumit bagi warga desa. Namun, melalui sosialisasi yang intensif, para perempuan petani kini memahami bahwa menjaga struktur hutan kopi dapat mendatangkan manfaat ekonomi ganda.

“Kami petani bukan hanya menjadi penjaga kebun, tetapi juga menjadi penjaga nilai. Ketika kami mampu memahami data karbon dari kebun sendiri, kami memiliki dasar yang lebih kuat untuk berbicara tentang keberlanjutan, nilai lingkungan, dan peluang ekonomi dari karbon,” ujar Ana Setyowati. (M-001)

BERITA TERKINI

TERPOPULER

Scroll to Top