Mulai dari Rempang di Kepulauan Riau, tragedi Pucak Gumang di Karangasem, Bali, dan “pencaplokan” tanah-tanah rakyat di tempat lain di Nusantara. Yang paling parah tentu, alih fungsi lahan pertanian kian masif di Bali, disulap menjadi villa, pasar modern, pusat perdagangan, pusat hiburan, hotel, dan desa-desa yang sesak dirangsek industri pariwisata. Di titik ini, seniman memang tidak biasa turun ke jalan, karena ia bukanlah jenis makhluk penyuka dunia yang gaduh, ia memilih berdemo dengan satire-satire kreatif, intelek, dengan ‘art simbolism’ munusuk, dengan hanya satu batu yang dipungut bantaran Sungai Tukad Unda,

“Padatnya kendaraan di Ubud sangat kita syukuri, sebab kondisi itu menjadi indikator kondisi ekonomi masyarakat lancar, perputarannya juga baik. Bisa dibandingkan saat covid-19, jalannnya lengang tapi ekonominya mandeg. Untuk itu diperlukan upaya dan solusi agar alam tetap terjaga, utamanya udara yang dihirup masyarakat setiap hari. Salah satunya adalah penyemprotan ecoenzyme,” ujar Anggota DPR RI I Nyoman Parta

Peresmian Perpustakaan Nawaksara juga ditandai dengan penandatanganan prasasti oleh Syarif Bando dan Bupati Gianyar I Made Mahayastra. Tak kalah menarik, anak-anak SD Negeri 2 Bedulu juga menampilkan koreo atau senam gemar membaca untuk meningkatkan budaya baca serta mengajak seluruh lapisan masyarakat untuk datang dan membaca di Perpustakaan Nawaksara. 

“Melukis sebagai jawaban saya terhadap stigma di masyarakat. Sebagai orang yang pernah mengidap skizofrenia, sangat sulit diterima masyarakat dan dianggap sampah, tidak berguna,” jelas Komang Loster. Disamping membuat lukisan, mengisi waktu luang dirinya juga mematung dan sudah menyelesaikan  satu set Tapel Topeng Sidakarya.

“Prosesnya telah melalui berbagai tahap, dimana tahun 2023 ini merupakan  tahap yang ketiga. Jika tahap ini telah selesai, maka Ubud telah siap menjadi destinasi gastronomi,” jelas Ismayanti Istanto. Yang mana Ubud sangat kolaboratif, memandang makanan tak sekadar kuliner, tapi sudah menjadi tradisi turun temurun.