“Kalau kita digitalisasi dalam pengelolaan pasar, banyak sekali manfaat positif yang kami terima,” katanya.
Ia berharap kolaborasi dengan BTN dan MKP dapat terus dikembangkan untuk memperluas digitalisasi serta meningkatkan kualitas pelayanan di pasar-pasar lain yang dikelola Perumda.
Selain sektor pariwisata dan pasar tradisional, BTN juga menjalin kerja sama dengan Desa Wisata Penglipuran untuk memperkuat layanan perbankan, pemberdayaan UMKM, serta pengembangan kawasan wisata berkelanjutan.
Desa wisata tersebut memiliki potensi sekitar 100 UMKM dan 50 guest house yang dapat memanfaatkan layanan transaksi digital dan akses pembiayaan dari BTN.
Kerja sama ini juga mencakup dukungan penataan dan penguatan identitas UMKM, pengembangan sarana dan prasarana, serta inisiatif lingkungan, sosial, dan tata kelola atau environmental, social, and governance (ESG). Pelaksanaannya tetap memperhatikan karakter budaya dan nilai-nilai masyarakat adat setempat.
Kelian Adat Penglipuran I Wayan Budiarta, S.Pd., mengatakan, pengelolaan pariwisata di desanya menerapkan pendekatan berbasis masyarakat atau community-based tourism. Dalam konsep tersebut, masyarakat adat menjadi pemilik sekaligus pihak yang menentukan arah pengembangan desa wisata.
“Kami tidak bisa berkembang dan maju sendiri. Kami butuh dukungan semua pihak yang punya kepentingan dan punya visi dan misi untuk memajukan pariwisata di Bali,” ujarnya.
Budiarta berharap kerja sama tersebut dapat meningkatkan kualitas layanan wisata dan pemberdayaan masyarakat, termasuk melalui pengembangan sistem reservasi daring serta perluasan jaringan pemasaran destinasi.










