Boreh Loloan, Perlu Dikenalkan

NEGARA – fajarbali.com | Tidak hanya dikenal dengan warisan rumah panggung, bahasa melayunya, tradisi pantun dan khasanah warisan budaya lainnya, kampung Loloan yang ada di Kelurahan Loloan Timur dan Loloan Barat Kabupaten Jembrana, ternyata  masih menyimpan tradisi membuat boreh. Ramuan tradisional ini biasanya dulu digunakan untuk memboreh para anak dare ( perempuan remaja) di Loloan. Namun tradisi yang dulu gemar dilakukan masyarakat Loloan kini berangsur-angsur mulai ditinggal, seiring kemajuan jaman. Padahal ramuan boreh Loloan cukup berkhasiat terutama untuk luluran terutama untuk aura kecantikan. 

 

 

Eka Sabara salah seorang anggota Komunitas Ngopi Bareng ditemui belum lama ini mengatakan tradisi memboreh untuk para anak dare di Loloan sudah ada sejak ratusan tahun lalu , bahkan mungkin sejak ada kampung Loloan di Jembrana. Warisan tradisional berupa boreh ini juga bisa dimanfaatkan sebagai masker wajah remaja putri yang memasuki usia balig(beranjak dewasa). “Ramuan boreh terdiri dari bahan bahan alami

 yaitu beras, bunga cempake, dan temutis ditambahkan sedikit kunyit. Bahan bahan tersebut ditumbuk sampai halus kemudian ditambahkan sedikit air panas secukupnya,” ujar Eka yang kini mulai giat mengumpulkan data dan menulis tentang sejarah serta tradisi di Loloan. Biasanya kata Eka, sesuai keterangan yang diperoleh dari para orang tua setelah ditumbuk halus, boreh tersebut di bentuk bulat dengan tangan dan dijemur hingga kering. 

Boreh yang kering kemudian disimpan dalam toples untuk persiapan pada saat akan dipergunakan oleh anak dare Loloan. ” Bahkan sesuai keterangan orang tua dulu, waktu pemakaian biasanya dilakukan menjelang sore hari sebelum terbenam matahari,” terang Eka. Tak hanya itu , boreh ini juga digunakan selain sebagai masker wajah juga sebagai lulur di sekujur tubuh pada saat anak dare ketika akan menjadi pengantin.

 

Tradisi menggunakan boreh khas Loloan ini ternyata mulai banyak ditinggal, dan kemungkinan banyak anak anak remaja kini lebih tertarik dengan produk modern. Meski demikian, tradisi ini juga masih digunakan terutama menjelang hajatan hajatan tertentu , misalnya perkawinan. 

 

Mulai jarangnya , orang menggunakan produk tradisional , maka Eka berharap agar tradisi boreh musti diperkenalkan kembali, terutama pemerintah daerah merespon untuk melestarikannya serta dapat memberikan sosialisasi kepada anak anak remaja terutama di dunia pendidikan agar mengenal tradisi membuat ramuan tradisional tersebut. Tentunya ke depan agar lebih dikenal di kalangan generasi muda dan tidak pudar ditelan jaman. (prm).

 Save as PDF

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Next Post

RSUD Karangasem Pastikan Stok Masker Masih Aman Untuk Pasien dan Tenaga Medis Warga Yang Baru Pulang Dari LN, Hanya Flu Biasa

Jum Mar 6 , 2020
AMLAPURA – fajarbali.com | Meski terjadi kelangkaan masker di pasaran, namun untuk ketersediaan masker di rumah sakit umum daerah (RSUD) Karangasem masih terbilang mencukupi. Masker-masker tersebut diperuntukan untuk petugas medis, maupun pasien di RSUD Karangasem. Selain itu, RSUD Karangasem juga menyebut jika warga yang sempat dipantau karena sepulang dari Luar […]

Berita Lainnya