"Saya dulu juga pernah bekerja di hotel, di front office, karena memang bidang saya bahasa Inggris. Ketika ada peluang di bidang perhotelan, saya berpikir mungkin ini saatnya kembali mengembangkan pengalaman itu dalam dunia pendidikan," tuturnya.
Dari situ, ia bersama tim menyusun kurikulum perhotelan sendiri. Pelatihan yang awalnya hanya 3 bulan dikembangkan menjadi program yang lebih komprehensif. Milati rajin studi banding ke berbagai daerah untuk mempelajari infrastruktur, sistem pembelajaran, dan kebutuhan industri vokasi.
BEC Academy sendiri kini tercatat sebagai lembaga di Kabuoaten Badung dengan skala 11-50 karyawan dan terverifikasi, yang menjalankan program English Course (anak-dewasa), Bimbel (TK-SMA), hingga program unggulan perhotelan setara 1 tahun.
Perkembangannya signifikan pada 2023-2024. Fasilitas yang dulu sederhana mulai dibangun bertahap. Bangunan satu lantai kini menjadi dua lantai dan lebih representatif. Program perhotelan dipusatkan di kampus utama BEC Academy, sementara beberapa cabang lain seperti di Sakah masih dengan sistem sewa/kontrak.
Kini di angkatan keempat, BEC Academy mengampu sekitar 125 mahasiswa. Bagi Milati, jumlah bukan sekadar angka.
"Bagi saya, pendidikan itu bukan hanya bagaimana mahasiswa mendapatkan sertifikat. Yang paling penting adalah mereka benar-benar punya kompetensi dan siap ketika masuk ke dunia kerja," tegasnya.
Harapannya, lulusan BEC Academy tidak hanya mengantongi sertifikat kompetensi, tetapi mampu memenuhi standar industri pariwisata global. Di tengah Badung sebagai jantung pariwisata Bali, kebutuhan tenaga kerja bersertifikat menjadi krusial.









