Bangun dari Tidur Panjang, Arja Banjar Bukit Buwung Langsung Wakili Kodya di PKB 2026

IMG-20260517-WA0017-1
Suasana latihan Arja Banjar Bukit Buwung, Kesiman Petilan Denpasar, menjelang penampilan di PKB 2026.

DENPASAR-fajarbali.com | Setelah tidur panjang puluhan tahun lamanya, Dramatari arja di Banjar Bukit Buwung, Desa Kesiman Petilan, Kecamatan Denpasar Timur akhirnya bangun. Menariknya, langsung diberi mandat mewakili Kodya Denpasar dalam ajang paling bergengsi Pesta Kesenian Bali (PKB) 48 tahun 2026.

Kebangkitan kesenian tradisional ini lahir dari semangat warga banjar, terutama generasi muda, yang ingin menjaga warisan seni leluhur agar tetap lestari di tengah perkembangan zaman.

Kesenian arja yang pernah mengalami masa kejayaan sekitar tahun 1960-an itu kini kembali dipelajari hingga terbentuk sekaa dramatari arja baru bernama Giri Nata Kusuma. Upaya pelestarian tersebut pun mendapat perhatian Pemerintah Kota Denpasar. Bahkan, dramatari arja Banjar Bukit Buwung dipercaya menjadi duta Kota Denpasar untuk tampil pada ajang Pesta Kesenian Bali (PKB) 2026.

Koordinator Dramatari Arja Klasik Giri Nata Kusuma, I Made Sumantra, mengatakan kebangkitan arja bermula dari keinginan warga untuk “nangiang” Ida Bhatara di Pura Banjar Bukit Buwung pada 2018. Saat itu, warga hanya memperbaiki empat gelungan lama yang masih tersisa, seperti gelungan condong, mantri manis, mantra buduh, dan limbur.

“Waktu itu baru sebatas memperbaiki gelungan peninggalan lama, belum ada penarinya,” ujar Sumantra.

Keinginan menghidupkan kembali arja semakin kuat saat karya di pura banjar pada 2025. Dorongan juga datang dari Pemerintah Kota Denpasar melalui Dinas Kebudayaan agar kesenian langka tersebut dibangkitkan kembali. Namun proses pembentukan sekaa sempat tertunda karena belum adanya kesepakatan warga.

Momentum kebangkitan akhirnya terjadi saat piodalan Tumpek Bubuh lalu. Kelian Banjar meminta warga segera mencari pelatih agar dramatari arja benar-benar bisa diwujudkan kembali.

Sumantra kemudian mencari pelatih atas rekomendasi seniman arja senior, Jero Ratna. Dalam proses pembentukan sekaa, warga lokal diprioritaskan menjadi penari dan pendukung pementasan agar keberlanjutan tradisi tetap terjaga.

BACA JUGA:  Pelestarian Joged hingga Sejarah Tanjung Benoa di BMN III 2018

Tak hanya itu, pemilihan pemain juga banyak melibatkan keturunan para pemain arja generasi sebelumnya. Tradisi regenerasi itu dinilai penting agar karakter dan roh kesenian tetap terpelihara.

“Dulu kakeknya menjadi penasar, sekarang diteruskan anak atau cucunya. Jadi memang ada kesinambungan generasi,” katanya.

Menariknya, sejumlah penari dipilih dari warga yang kerap mengalami kerauhan saat piodalan di pura banjar. Menurut Sumantra, beberapa warga secara spontan menari atau melantunkan tembang arja meski tidak pernah belajar sebelumnya.

“Setiap piodalan selalu ada yang kerauhan, ada yang menari limbur, condong, bahkan matembang arja secara alami,” ungkapnya.

Salah satu penari condong yang masih berusia muda disebut terpilih setelah sebelumnya mengalami kerauhan dan menarikan karakter condong saat piodalan. Dari total pemain yang terlibat, hanya dua orang yang belum menikah, sementara lainnya merupakan warga Banjar Bukit Buwung yang sudah berkeluarga.

Para pemain dilatih oleh sejumlah seniman, di antaranya Made Sudira dan Jero Ratna. Setelah proses kebangkitan arja diketahui Dinas Kebudayaan Kota Denpasar, sekaa Giri Nata Kusuma kemudian ditunjuk sebagai duta Kota Denpasar untuk tampil di PKB 2026.

“Ini menjadi tugas berat bagi kami karena sebagian besar penarinya adalah warga banjar yang tidak semuanya memiliki dasar tari maupun tembang,” ujar Sumantra.

Latihan perdana dimulai pada 18 Januari 2026 setelah dilakukan prosesi nuasen. Demi mengejar persiapan tampil di PKB, latihan dilakukan secara intensif dengan tambahan pelatih, seperti Made Sudarsana untuk tabuh, Made Sudira sebagai pelatih penasar, Jero Ratna, Wayan Rumasih, serta Rimbit sebagai pelatih tari Limbur.

Atas usulan Jero Ratna, dramatari arja yang akan dipentaskan mengangkat lakon “Katung Pingit”, selaras dengan tema PKB 2026, “Atma Kerthi”. Judul tersebut juga terinspirasi dari kondisi arja lama di Banjar Bukit Buwung yang hanya menyisakan katung dan gelungannya saja.

BACA JUGA:  Koster Canangkan Penyuluh Kebudayaan, Dukung Pengembangan Prodi Bahasa Bali di UPMI

“Katung itu dulu tetap disakralkan walaupun lama tidak digunakan. Dari situlah ide cerita ini muncul,” jelasnya.

Pementasan dramatari arja tersebut akan diiringi barungan gamelan geguntangan seperti tradisi masa lalu. Namun satu instrumen lama bernama “ber”, alat musik berbentuk lingkaran menyerupai rebana, tidak lagi digunakan karena sudah rusak dimakan rayap.

Sementara itu, seniman senior Ni Ketut Cangkir yang dahulu pernah menjadi pemeran Condong mengaku bangga melihat semangat generasi muda menghidupkan kembali kesenian arja di banjarnya.

“Saya senang anak-anak muda sekarang mau belajar dan membentuk kembali sekaa dramatari arja di banjar ini,” ujarnya.

Kabid Kesenian Dinas Kebudayaan Kota Denpasar, I Wayan Narta, mengatakan keberadaan seni Arja di kawasan Kesiman memang memiliki jejak sejarah yang kuat. Bahkan sejumlah atribut dan perlengkapan kesenian lama seperti gelungan Arja masih tersimpan dan kini kembali diangkat sebagai bagian dari upaya revitalisasi seni tradisi.

“Secara historis memang ada kesenian Arja di desa tersebut. Itu yang sekarang kami angkat kembali,” katanya.

Menurut Narta, Arja merupakan salah satu seni dramatari klasik Bali yang memadukan unsur tembang, dialog, tari, dan lawakan. Di Kota Denpasar, kesenian ini pernah berkembang kuat di sejumlah wilayah seperti Kesiman, Pedungan, hingga Sanur. Namun dalam beberapa dekade terakhir, keberadaannya mulai jarang dipentaskan sehingga kini kembali digeliatkan oleh generasi pelaku seni.

Selain Arja, Denpasar juga masih memiliki sejumlah kesenian klasik yang tetap dijaga keberlangsungannya, seperti Joged Gandrung, Gambuh, Wayang Wong, Topeng Pajegan, hingga Gender Wayang. Sejumlah kesenian tersebut terus dikembangkan melalui sanggar-sanggar seni berbasis desa adat serta pembinaan generasi muda.

Ia menilai langkah Denpasar mengedepankan kesenian berbasis akar tradisi desa menjadi strategi penting dalam menjaga identitas budaya lokal di tengah perkembangan seni modern. 

BERITA TERKINI

TERPOPULER

Scroll to Top